|
Kardinal Ignatius Kung Pin-Mei
 Kunjungan Kardinal Sin
Upaya bagi pembebasan Uskup Kung terus-menerus dilakukan, baik oleh keluarganya di bawah pimpinan Joseph Kung - kemenakannya, organisasi-organisasi hak asazi manusia, termasuk Amnesti Internasional, Palang Merah, pemerintah Amerika Serikat, dsbnya. Akhirnya, pada tanggal 3 Juli 1985, Uskup Kung dibebaskan dari penjara untuk menjalani tahanan rumah selama 10 tahun di bawah pengawasan ketat para uskup Asosiasi Patriotik yang merampas keuskupannya. Setelah melewatkan dua setengah tahun tahanan rumah, pada tanggal 5 Januari 1988, sekonyong-konyong pemerintah mengakhiri masa tahanannya dan memulihkan hak-hak sipil Uskup Kung. Tetapi, dakwaan yang dikenakan kepadanya sebagai seorang kontra-revolusioner tidak pernah dicabut.
Pada tahun 1988, Joseph Kung, keponakannya, datang ke Cina dan meminta ijin Uskup untuk membawanya ke Amerika bersamanya. Uskup menjawab, “Kecuali jika aku bersedia berkompromi dengan gereja skismatik itu, mereka tidak akan mengijinkanku meninggalkan Cina. Lebih baiklah bagimu memiliki seorang paman yang adalah seorang tawanan setia bagi Kristus, daripada memiliki seorang paman yang bebas, yang adalah seorang uskup skismatik. Marilah kita serahkan segalanya ke dalam tangan Tuhan.” Tampaknya Tuhan tak hendak memperpanjang penderitaan hambanya yang setia itu. Joseph Kung berhasil mendapatkan ijin untuk membawanya ke Amerika guna mendapatkan perawatan kesehatan yang layak.
Menjelang Uskup Kung dibebaskan, Kardinal Jaime Sin, Uskup Agung Manila, Filipina, yang sedang dalam kunjungan persahabatan ke Cina, meminta agar diperbolehkan bertemu dengan Uskup Kung. Karena pemerintah tak menghendaki Kardinal Sin bertemu dan berbicara secara pribadi dengan Uskup Kung, maka diselenggarakanlah suatu perjamuan. Di sana, ada lima meja besar yang digabungkan menjadi satu; Kardinal Sin dan Uskup Kung masing-masing ditempatkan di ujung meja, dipisahkan oleh lebih dari duapuluh orang pejabat komunis dan para uskup Asosiasi Patriotik, guna memastikan keduanya tidak memiliki kesempatan untuk saling bertegur sapa. Menjelang akhir perjamuan, untuk mencairkan suasana yang tegang kaku, Kardinal Sin mengusulkan agar setiap orang menyanyikan sebuah lagu kesukaan. Ketika tiba giliran Uskup Kung, ia menatap langsung kepada Kardinal Sin dan menyanyikan suatu lagu Latin yang sederhana, suatu lagu yang biasa dinyanyikan umat beriman di seluruh dunia, “Tu es Petrus et super hanc petram aedificabo Ecclesiam” (Engkaulah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku).
Aloysius Jin, Uskup Shanghai dari Asosiasi Patriotik mencela Uskup Kung, “Apakah yang hendak engkau lakukan? Menunjukkan kedudukanmu?” Dengan tenang Uskup Kung menjawab, “Tidaklah perlu menunjukkan kedudukan saya. Kedudukan saya tidak pernah berubah.”
Kardinal Sin segera menyampaikan pesan Uskup Kung kepada Bapa Suci serta mengumumkan kepada seluruh dunia: abdi Allah ini, kendati segala penghinaan, sengsara, kepahitan, isolasi dan penderitaan tak manusiawi yang tak terbayangkan selama lebih dari tigapuluh tahun, tidak pernah pupus cintanya bagi Gereja-nya, dan bagi umatnya; tidak pernah pupus kesetiaannya kepada Bapa Suci, Vicar Kristus di dunia.
 Diangkat Sebagai Kardinal
Uskup Kung telah berusia 87 tahun ketika akhirnya ia dibebaskan. Pada bulan Mei 1988, ia tiba di Amerika Serikat bersama Joseph Kung. Uskup Walter Curtis dari Keuskupan Bridgeport, Connecticut mengundang Uskup Kung untuk tinggal di rumah tua para klerus Keuskupan Bridgeport, dan menjadi tamu keuskupan selama sembilan tahun hingga Desember 1997.
Setahun setelah dirawat di Amerika, Uskup Kung merasa cukup kuat untuk pergi ke Roma, di mana ia disambut hangat dalam suatu audiensi pribadi dengan Paus Yohanes Paulus II. Saat itulah Bapa Suci memberitahukan kepada Uskup bahwa ia telah mengangkat Uskup Kung sebagai kardinal in pectore (= dalam hati Paus, tanpa mengumumkannya kepada siapa pun) sejak tahun 1979; jadi Kardinal Kung telah ada dalam hati Paus selama 12 tahun lamanya! Bapa Suci meminta Uskup Kung untuk tetap menyimpannya sebagai rahasia hingga diumumkan secara resmi, andai pernah, oleh Paus sendiri. Kardinal Kung taat sepenuh hati, ia tidak memberitahukan kepada siapapun termasuk keluarganya sendiri.
Pada tanggal 29 Mei 1991, akhirnya Paus mengumumkan kepada seluruh dunia bahwa Uskup Kung sesungguhnya telah diangkatnya menjadi kardinal sejak tahun 1979. Ketika Paus Yohanes Paulus II menganugerahkan topi merah kepadanya dalam suatu upacara pada tanggal 28 Juni 1991 dalam Konsistori di Vatican, Kardinal Kung yang telah berumur 90 tahun dan harus tinggal di kursi roda karena sakit itu bangkit dari kursi rodanya, menyingkirkan tongkatnya, dan berjalan tertatih-tatih untuk berlutut di hadapan Paus. Semua orang melihat betapa Paus terharu, ia membungkuk untuk membangkitkan sang Kardinal, menyerahkan topi merah dan dengan sabar menanti sementara Kardinal Kung berjalan tertatih-tatih kembali ke kursi roda; sekitar 9000 tamu yang hadir dalam Ruang Audiensi di Vatican bangkit berdiri dan terdengarlah tepuk tangan membahana selama tujuh menit tanpa henti.
Mengenang hal itu, Kardinal Kung mengatakan, “Dalam upacara penyerahan topi merah, Bapa Suci mengucapkan kata-kata kuno ini, `Dengan menerima topi merah ini... engkau hendaknya tetap setia, teguh, gigih, bahkan jika harus menumpahkan darah.' Bapa Suci berulang kali menekankan, `bahkan jika harus menumpahkan darah.' Sejak saat saya secara resmi dimaklumkan sebagai Kardinal, saya akan berdaya upaya semaksimal mungkin untuk setia pada ajaran Gereja, walau apapun pengorbanannya. Sebelumnya, saya telah dipenjarakan selama tigapuluh tahun karena iman saya, dan dapat dikatakan bahwa saya hanya menderita setengah saja dari kemartiran. Saya belum sampai menumpahkan darah. Sekarang, saya mengenakan topi merah ini dan mendengar apa yang diharapkan Bapa Suci dari segenap kardinal, maka walau telah lanjut usia, saya harus lebih giat, lebih berdaya upaya dalam setia kepada Kristus, kepada Gereja-Nya, kepada Vicar-Nya di dunia, hingga akhir hayat saya, bahkan jika harus menumpahkan darah dan dihukum mati.”
 Akhir Hidupnya
Selama duabelas tahun terakhir hidupnya, Kardinal Kung mempersembahkan Misa Kudus di banyak paroki, menjadi pembicara dalam konferensi-konferensi Katolik dan televisi, melayani wawancara dan menyampaikan khotbah di segenap penjuru Amerika Serikat guna menarik perhatian dunia akan penganiayaan terhadap Gereja Katolik Roma di Cina yang masih terus-menerus berlangsung hingga sekarang. Kardinal Kung tetap menjadi inspirasi bagi sekitar 9 hingga 10 juta umat Katolik Roma bawah tanah di Cina. Hal ini menimbulkan kegeraman pemerintah komunis Cina. Dalam suatu wawancara dengan Pers Cina di New York pada tanggal 12 Februari 1998, Ye Xiaowen, Direktur Biro Agama Cina menyatakan, “Kung Pin Mei melakukan suatu tindak kejahatan yang amat serius dengan memecah belah bangsa dan mencelakakan rakyat.” Sebulan kemudian, Maret 1998, pemerintah Cina mencekal paspor Kardinal Kung yang telah berumur 97 tahun itu, dan secara resmi menganggapnya sebagai seorang buangan, tanpa pernah boleh menginjakkan kaki kembali di Cina.
Kardinal Kung tidak pernah berhenti memohon doa bagi mereka yang telah memisahkan diri dan bergabung dengan Asosiasi Patriotik yang dibentuk pemerintahan komunis. Melalui Voice of America, ia juga mengundang para uskup Patriotik untuk kembali ke Kota Abadi bersamanya.
Beberapa bulan sebelum akhir hayatnya, di hadapan keluarga Kardinal, Uskup Horgan memberitahukan kepada Kardinal akan penyakit kanker ganas yang dideritanya. Kardinal Kung mendengarkan dengan seksama tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia hanya memandangi salib, menciumnya, lalu mempergunakannya untuk memberkati mereka. Beberapa minggu sebelum Saudari Maut menjemputnya, Kardinal kesakitan hingga akhirnya tak sadarkan diri selama beberapa jam menjelang ajal. Apabila rasa sakit menyerang, Kardinal akan berseru perlahan, “Bunda Maria, tolonglah aku; Yesus, tolonglah aku; St Yosef, tolonglah aku.” Terus-menerus, beribu-ribu kali ia mengulangi litani pendek ini. Hampir sepanjang waktu rosario senantiasa ada dalam genggamannya. Kardinal mengatakan bahwa ia mempersembahkan segala sakit-penyakit serta penderitaannya demi Bapa Suci dan demi Cina. Akhirnya, Yang Mulia Kardinal Ignatius Kung Pin-Mei dipanggil pulang ke rumah Bapa untuk menerima ganjaran surgawi, pada tanggal 12 Maret 2000 pukul 3.05 dini hari dalam usia 98 tahun.
Mengenai Kardinal Kung, Uskup Fulton Sheen menulis, “Barat mempunyai Mindszenty, dan Timur mempunyai Kung. Betapa Tuhan dipermuliakan dengan para kudusnya.”
 Meditasi Yesus di Salib
Meditasi Yesus di Salib
oleh Kardinal Ignatius Kung
ditulis dalam penjara di Cina 1955 -1988
Sekilas informasi mengenai latar belakang naskah ini: Kardinal Kung memiliki devosi yang amat mendalam kepada Yesus di Salib dan kepada Bunda-Nya Tersuci. Selama 30 tahun ia dikurung dalam penjara dalam bilik yang paling terisolasi. Apabila ia ditempatkan dalam bilik-bilik penjara bersama para tawanan lainnya, pemerintahan komunis dengan seksama memastikan agar ia tidak berhubungan dengan para tawanan Katolik, para klerus atau para religius lainnya. Selama 30 tahun, ia dijauhkan dari bacaan-bacaan Katolik, Kitab Suci, rosario, salib, Misa ataupun sakramen-sakramen. Pula tidak boleh ada surat maupun kunjungan sama sekali. Meditasi di bawah ini ditulis di atas sehelai kecil kertas gabah yang tipis, disembunyikan dari para pengawal penjara dan secara ajaib senantiasa terselamatkan dari pemeriksaan berulangkali dalam penjara. Naskah ini kemudian diselundupkan keluar dari Cina; pertama kali diterbitkan pada pemakaman Kardinal Kung pada tanggal 12 Maret 2000.
Tuhan kita Yesus di atas salib. Sekujur tubuh-Nya memar dan penuh luka, kedua tangan dan kaki-Nya dipakukan pada kayu salib; kepala-Nya bermahkotakan duri; sementara minuman-Nya cuka dan empedu pahit belaka. Walau sungguh dahsyat sengsara-Nya, Ia tahu bahwa banyak orang akan tetap dingin dan acuh tak acuh. Sengsara batin-Nya ini bahkan jauh lebih menyakitkan daripada sengsara raga-Nya.
Tuhan menderita begitu hebat untukku. Mengapakah aku tak hendak melepaskan sedikit kesenangan duniawi dan menerima sedikit penderitaan dalam hidup ini? Aku sadar benar bahwa Yesus menderita demi silih atas dosa-dosaku, namun demikian aku masih saja menentang kehendak-Nya dan berbuat dosa. Bagaimana mungkin aku dapat menolak rahmat-Nya dan menambah sengsara-Nya?
Tuhan menanggung penderitaan yang ditimpakan oleh beragam orang. Para rasul mengkhianati-Nya, tua-tua Yahudi mendakwa-Nya, orang-orang kafir menghujat-Nya, sedangkan para imam besar, para pejabat, para prajurit dan khalayak ramai semuanya bersepakat untuk membunuh Dia. Yesus menderita sengsara demi menyelamatkan segala orang dari berbagai kalangan, sebab itu Ia menerima segala macam penderitaan yang ditimpakan oleh beragam orang, termasuk kita semua. Adakah kita tidak menambah penderitaan-Nya dengan kurangnya iman, dengan berbuat dosa dan dengan tidak mengasihi Hati-Nya yang Mahakudus?
Di manakah gerangan Bunda Tersuci saat itu? Ia meratap pilu di kaki Salib, memandang bisu kepada Putranya yang menderita. Ini bukanlah kasih manusiawi biasa antara bunda dan putra. Ia mempersatukan segenap kasihnya kepada Yesus dan segenap kasihnya kepada umat manusia, mempersembahkannya sebagai kurban kepada Allah Bapa demi keselamatan seluruh dunia. Bunda Maria adalah sungguh Bunda keselamatan kita.
Hendaknyalah masing-masing dan setiap kita meneladani Santa Perawan Maria, merenungkan Yesus di salib. Hendaknyalah kita mempersembahkan segala penderitaan kita demi silih atas dosa-dosa kita dan atas dosa-dosa sesama, mohon belas kasihan dan pengampunan, serta tidak pernah acuh dalam menanggapi rahmat-rahmat yang Yesus perolehkan bagi kita melalui Sengsara-Nya.
Sumber : “The Cardinal Kung Foundation”; www.cardinalkungfoundation.org
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “disarikan dan diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”
|