Kenangan Tahbisan Imamat P. Gregorius Kaha, SVD :

Pada Mulanya Adalah Sabda, Sabda itu Ada Bersama Dengan Allah, Sabda itu Adalah Allah”

Rm Goris dan keponakan tersayang: Laras & Kene

Pada tanggal 5 September 1998, saya ditahbiskan menjadi imam di Pulau Solor bersama lima teman saya, di satu desa namanya Menanga - Solor Timur. Yang unik pada saat itu menurut saya adalah tahbisan terjadi di desa yang mayoritas penduduknya beragama Islam, lagi pula tak seorang pun dari kami berasal dari desa itu. Banyak anggota panitia tahbisan juga bukan orang Katolik. Tetapi mereka bekerja luar biasa dan sangat rukun. Warna macam ini dalam refleksi pribadi saya sebenarnya melukiskan latar belakang karya perutusan kami yang ditahbiskan. Ambil salah satu sisi sebagai contoh, yakni masing-masing dari kami datang dari latar belakang yang berbeda dan akan diutus ke tempat dengan suasana dan keadaan yang berbeda pula. Secara singkat, dengan diiringi doa untuk teman-teman saya ini, saya perkenalkan:

P. Klemens Hayon bertugas di Belanda
P. Audaktus Herin bertugas di SVD Togo
P. Hilarius Kaha di SVD Mexico
P. Mikel Keyn di SVD Argentina
P. Goris Kaha di SVD Jawa - Indonesia
Rm. Kustan Pr di Keuskupan Larantuka

Ada kisah lucu untuk kami berenam sewaktu tahbisan. Di Pulau Solor itu hanya ada satu bus dan tiga truk penumpang (transportasi kami saat itu cukup sulit). Panitia merencanakan agar rombongan calon imam baru akan dijemput dengan bus semata wayang itu; tetapi sayang, seminggu menjelang tahbisan, bus dibakar orang sekampung karena jengkel sopirnya sering mabuk. Akhirnya, kami dijemput dengan truk kayu; di atas truk ada spanduk besar dengan tulisan “Pujilah Tuhan, karena Dia baik!” Lalu saya berpikir Pujilah Tuhan karena imam barunya atau karena mereka masih memiliki satu truk lainnya. Tetapi pasti yang pertama tadi yang di maksudkan.

Motto tahbisan yang saya pilih adalah rangkuman pengalaman dan keyakinan pribadi saya. Saya ambil dari prolog Yohanes, “Pada mulanya adalah Sabda, Sabda itu ada bersama Allah dan Sabda itu adalah Allah.”

Kisah panggilan yang sangat menarik bagi saya dalam Kitab Suci adalah panggilan Samuel. Ketika saya mempersembahkan misa perdana, anak-anak TK di kampung coba memperagakan kisah itu; sederhana, spontan dan sangat lucu. Saya heran bagaimana mereka tahu bahwa kisah itu saya senang; ternyata ibu guru mereka adalah salah satu teman kelas saya dulu. Dia masih ingat pengalaman sharing semasa masih di SMP ketika saya akan ke seminari menengah. Saya merasa itu semua merupakan bentuk dukungan paling tulus dari sesama. Dalam kitab Kejadian, kita baca bagaimana Allah mencipta dan Dia melihat semuanya baik adanya. Saya memilih motto ini karena keyakinan bahwa “pada mulanya adalah Sabda” menghantar orang untuk menghormati ciptaan secara tulus. Sebagai imam, saya dituntut menghargai ciptaan dan menghormati semua orang. Saya harus belajar menerima semuanya dengan semangat Sang Sabda tadi: SEMANGAT UNTUK MENGASIHI.

Benih panggilan sebenarnya sudah mulai nampak waktu saya di bangku SD kelas dua. Motivasinya sederhana saja: “Saya ingin membawakan misa.” Kalau dikenang pada masa kecil itu hampir dalam setiap permainan anak-anak saya ditentukan, atau lain kesempatan menjadikan diri, sebagai seorang pastor. Saya ingat bagaimana piama / pakaian tidur ayah saya jadikan kasula dan biscuit Roma yang bulat besar itu saya jadikan hosti; itu yang sering saya bagikan kepada teman-teman dalam permainan misa-misaan itu.

Saya lahir dari pasangan Marcelinus Kaha dan Philomena Dawan. Saya hidup bersama lima saudari saya yang dididik dengan tradisi Katolik yang kuat. Artinya, saya adalah anak laki-Iaki tunggal dan memiliki lima orang saudari. Pada akhir seminari menengah, ayah saya meninggal. Saya sedikit goncang; untung ibu saya sangat mendukung dan membantu. Sampai sekarang saya yakin ibu dan saudari-saudari saya selalu menyertai saya dengan doa-doa mereka: TERIMA KASIH MAMA ...

Semua orang tahu bahwa hidup imamat tidaklah mudah, ada banyak tantangan, godaan dan kesulitan datang dan pergi. Sebagai seorang imam, perlu ada sikap kerendahan hati. Sikap dasar ini akan menghantar orang untuk siap mendengarkan orang lain, siap bekerjasama dan terus-menerus belajar dari orang lain atau pengalaman konkrit setiap hari. Hanya orang yang rendah hati mau menerima teguran dan kehendak Tuhan dalam hidupnya. Maka saya menyadari bahwa di balik kelemahan-kelemahan saya, Tuhan memberi saya bakat, kemampuan dan bahkan karunia agar saya terus berusaha untuk semakin dapat berguna bagi banyak orang.

Sekarang saya merayakan ulang tahun imamat saya. Saya merasa dan menyadari perjalanan imamat masih panjang. Saya perlu belajar dari pengalaman banyak Romo Senior, saya perlu belajar dari pengalaman umat yang saya layani, dan tidak lupa saya pun harus berani belajar dari pengalaman-pengalaman hidup yang saya alami setiap hari.

Di hari ulang tahun Imamat ini, saya ingin mengucap syukur kepada Tuhan, khususnya kepada Sang Sabda yang menggerakkan saya di jalan hidup panggilan ini. Saya juga ingin berterima kasih kepada semua orang yang mendukung saya dalam bentuk doa, perjumpaan dan tegur sapa. Terima kasih untuk saudara-saudara saya: Romo Remi, Romo Wayan, Romo Yoseph dan Diakon Bobby. Terima kasih untuk para pengurus Gereja yang selalu setia bekerjasama demi kepentingan umat. Tak lupa saya berterimakasih pula kepada segenap karyawan-karyawati gereja. Pinjam kata-kata Media Bina Iman ini: YESUS memang SAYANG SAYA!

Selamat Ulang Tahun Imamat!
PF: 5 September
1998
2005