|
Apa itu ACE?
oleh P. Terry Ponomban, Pr
Dunia Makin Panas, Butuh `ACE'...
Ketika bertemu seorang teman dari Indonesia di Perancis akhir tahun ini, saya bertanya: sudah bermandi salju di Roma? Jawabnya singkat: tipis kemungkinan Roma bersalju, soalnya bumi makin panas… Ya, bumi semakin panas… Karena itu, dibutuhkan AC atau `ACE'. Air condition memang dibutuhkan ketika bumi makin panas… Namun, ACE yang saya temukan di akhir tahun 2005 ini, bukan ACE sembarang ACE tetapi, Adoration, Compassion dan Evangelization….
Komunitas Emmanuel
Komunitas Emmanuel adalah persekutuan umat Katolik dari segala status hidup: kaum awam yang berkeluarga maupun yang selibater, pria dan wanita yang memilih hidup selibater, dan para imam. Pada tahun 1998 tercatat 6000 anggota komunitas yang sungguh aktif dan tersebar di lebih 50 negara. Termasuk di antaranya 116 imam, 110 frater, 15 diakon, 150 wanita dan 15 pria yang memilih hidup selibater [sebagai suster dan bruder]. Pendirinya adalah seorang awam, alm. Pierre Goursat, yang mendirikannya pada tahun 1976 di Paris, Perancis, dan pada tahun 1992 mendapatkan pengakuan resmi dari Vatikan.
Anggota Komunitas Emmanuel berhasrat dan berupaya menghidupi panggilan menuju kesempurnaan hidup / kekudusan yang adalah panggilan setiap orang Katolik yang dibaptis, secara radikal. Mereka saling mendukung dan membagi keyakinan imannya bahwa Allah hadir di dalam hidup setiap orang dan Ia mencintai kita sekalian. Misi komunitas ialah menampakkan kepada setiap orang kehadiran Allah yang penuh cinta, Allah yang Emmanuel, Allah yang menyertai kita!
Komunitas Emmanuel sangat terlibat dengan kehidupan kaum muda, dengan keluarga-keluarga, dengan karyawan-karyawati di pelbagai bidang kerja, dengan para artis. Banyak keuskupan, khususnya di Perancis dan umumnya di Eropa, telah mempercayakan pengelolaan parokinya kepada para imam dari Komunitas Emmanuel.
Setiap musim panas diadakanlah pelbagai kegiatan international di Paray-le-Monial, Perancis, kota Hati Kudus Yesus. Entah berupa retret, fraternity, international forum kaum muda, seminar bagi para suami-isteri, calon nikah, para imam, para seminaris, para suster dan bruder, bagi mereka yang telah memasuki masa pensiun, relawan misioner mancanegara, dll. Di kawasan Asia sendiri, Komunitas Emmanuel telah hadir di Singapura, India, Taiwan, Cina, Jepang, Indonesia, Libanon.
ACE
Setiap kegiatan Komunitas Emmanuel, tetapi juga setiap langkah hidup harian anggota Komunitas Emmanuel tidak terlepas dari ACE: adoration, compassion dan evangelization. Singkatnya, Komunitas Emmanuel menempatkan Kristus Ekaristis sebagai dasar dan pusat hidupnya; maka adorasi termasuk Ekaristi merupakan muara hidupnya. Adorasi adalah perjumpaan dan penyembahan terhadap Kristus yang membuka hati-Nya, memberikan diri-Nya, yang hadir secara amat nyata lewat Sakramen Ekaristi, lewat hati-Nya yang terbuka, yang tergerak oleh belas kasih, yang merupakan samudra cinta, yang merupakan sumber segala kesegaran dan belas kasihan. Orang lalu mengalami dan menyatu dengan compassion Yesus sendiri. Dan selanjutnya, siapa saja yang beradorasi, menyatu dengan hati compassionate Yesus, akan tak dapat tinggal diam, tetapi mengalami perutusan untuk bersaksi, untuk bermisi, untuk mewartakan Kabar Baik, untuk menghadirkan Kristus itu sendiri, untuk ber-Emmanuel.
Maka, suasana persaudaraan, belas kasihan, semangat bersaksi dan mewartakan, penuh kerendahan hati dan kegembiraan menandai pertemuan-pertemuan Komunitas.
Memasuki Detik-Detik 2006 Bersama Dua Santa
Sejak 27 Desember 2005 sampai 1 Januari 2006, bersama lima teman dari Indonesia, kami mengikuti retret fraternitas Yesus bersama Komunitas Emmanuel di Paray Le Monial, kota ziarah tempat Hati Kudus Yesus ditampakkan kepada St Margareta Maria Alacoque. Hampir 2000 peserta retret dari 5 benua, dengan 150-an imam bersekutu dalam refleksi, pengajaran, sharing, kesaksian, adorasi, ekaristi, sakramen tobat, dll.
Di salah satu malam, sambil mensyukuri berkat Tuhan lewat komunitas di manca negara, pimpinan Komunitas Emmanuel secara pribadi memberikan kesaksian mengenai Komunitas Emmanuel di Asia, termasuk Indonesia. Sungguh menyentuh, Komunitas Emmanuel Indonesia diperkenalkan bukan oleh orang Indonesia sendiri, tetapi oleh seorang seminaris Vietnam dan seorang pemudi India yang sempat mengunjungi Indonesia dan mengalami langsung keberadaan Komunitas Emmanuel Indonesia. Secara sempat mengejutkan, diumumkan pula bahwa salah satu agenda penting 2006 adalah pelaksanaan sebuah retret fraternitas Yesus Pan-Asia-Australia di Indonesia, pada awal Mei 2006. Gegap gempita tepuk riuh menyambut dan mendukung berita tersebut. Maka, enam wakil Indonesia yang ada pun tampil mendadak dalam gerak tari indah diiringi lagu `Bawalah Persembahanmu' yang membuat seluruh hadirin ikut berdiri dan berlenggang lenggok.
Hari-hari retret berlalu penuh pesona dan persaudaraan sambil menuju puncaknya. Puncaknya adalah hari terakhir di tahun 2005 ini; sejak jam 21.00 seluruh peserta retret telah memadati basilika kota Paray Le Monial yang beberapa hari sebelumnya ditaburi salju dengan suhu sampai di bawah 10 derajad C di pagi hari. Seluruh peserta larut dalam doa malam, diiringi lagu-lagu syahdu penuh syukur dan pujian. Renungan mengenai panggilan dan misi khusus para anggota komunitas untuk mencapai kekudusan dan kesempurnaan hidup begitu lembut menyentuh, menggugah dan menyemangatkan. Syukur ini mencapai klimaksnya dengan kehadiran dua relikwi dari dua orang kudus, yakni St. Theresia dari Kanak-kanak Yesus: pelindung karya misi dunia dan St. Margareta Maria Alacoque: misionaris Hati Kudus Yesus.
Tak terbayangkan massa yang memadati katedral antik dan luas ini bisa khusuk dalam keheningan dan doa, seolah tiada bunyi, hingga gerimis di luar gedung seolah terdengar. Renungan misioner mengenai St. Theresia dari Kanak-kanak Yesus, serta ajakan bermisi atas dasar hati Yesus penuh belas kasih sungguh membaharui para peserta, bukan hanya membaharui hari baru dan tahun baru. Satu persatu umat maju dalam hening doa, menyentuh relikwi dan mengecupnya. Menjelang detik-detik pergantian tahun, Sakramen Mahakudus diarak penuh meriah sementara semua umat berlutut khidmat. Yesus, sang Emmanuel sungguh hadir dan memanggil putra-putri-Nya menjadi saudara-saudari satu sama lain, menghadirkan Dia, yang dijumpai dalam adoration, yang memberikan hati-Nya penuh compassion dan yang menyertai mereka dalam evangelization / mission harian mereka. Sakramen Mahakudus mendekati setiap kelompok umat begitu dekat, begitu hangat membenarkan keyakinan Emmanuel: Allah berada di tengah-tengah kita. Kemudian sakramen diarak lagi menuju tabernakel diiringi puji-pujian amat meriah, serentak, sehati sejiwa.
Kemudian, suara pengatur tatacara liturgi menggema: `kita sudah di tahun baru, selamat tahun baru' atau dalam bahasa Perancis dikatakan `sainte annee', yang secara harafiah: tahun suci... ya, sebuah tahun baru, tahun suci. Maka, meledaklah sukacita semua umat, peluk cium penuh kasih, air mata syukur dan harap menghangatkan malam nan dingin.
Selamat datang tahun baru, selamat datang tahun suci.... Terima kasih St. Theresia dari Kanak-kanak Yesus: setiap orang dipanggil menjadi missionaris lewat perbuatan-perbuatan kecilnya, kurban-kurban mungil yang dipersembahkan atas dasar cinta dan demi menyenangkan Tuhan. Terima kasih St. Margareta Maria Alacoque: terpesona oleh Hati Kudus Yesus yang penuh kasih, setiap jiwa dan hati yang menyembah-Nya akan disertai-Nya, akan dimampukan-Nya menjadi bentara kasih-Nya.
Akhir Kata
Sebuah catatan pribadi saya ingin catat: ternyata api iman di Eropa tidak mati ; mungkin di masa sulit, tapi tidak mati. Betapa bahagianya melihat keluarga-keluarga muda Katolik bersama imam mereka dari Belanda, Jerman, Belgia yang begitu bersemangat dalam iman dan perutusan misioner. Juga, secara pribadi saya tersentuh: kata orang, orang Asia / Timur itu lebih devosional, meditatif dan pendoa. Di hari-hari retret ini, saya sungguh mengagumi, orang Eropa yang rasional, ternyata tidak kalah dalam hidup meditatif, devosional dan adoratifnya.
Selamat tahun baru, selamat tahun suci! Sampai jumpa dalam retret fraternitas Yesus Kristus bersama Komunitas Emmanuel di Indonesia, awal Mei 2006. Emmanuel, tinggallah bersama kami, sepanjang tahun baru ini dan semoga negeri kami, keuskupan dan paroki kami tetap segar dan hidup berkat ACE: adoration, compassion dan evangelization. Amin.
|