Mengenal Basilika, Katedral dan Tempat Ziarah

oleh: P. William P. Saunders *

portico
apsis
clerestory
lorong gereja
baldachino
conopoeum

Beberapa sanak saudara datang berkunjung pada Masa Paskah, dan kami mengunjungi Basilica of the National Shrine of the Immaculate Conception di Washington, D.C. Mereka bertanya apakah ini sebuah katedral, dan saya menjawab, “Bukan.” Tetapi, kemudian kami semua bertanya-tanya: apa sesungguhnya beda antara sebuah basilika, katedral dan tempat ziarah?
~ seorang pembaca di Alexandria

Basilika, katedral dan tempat ziarah adalah istilah-istilah yang berbeda, tetapi tidak saling eksklusif. Sebagi misal, sebuah basilika dapat merupakan sebuah tempat ziarah, dan sebuah katedral dapat merupakan sebuah basilika. Penjelasan lebih terperinci akan masing-masing istilah tersebut akan membantu kita memahaminya.

Struktur basilika dikembangkan oleh orang-orang Romawi kuno sebagai aula umum mereka yang sangat besar, yang terletak di fora atau alun-alun umum. Tepatnya, basilika adalah sebuah bangunan jajaran genjang dengan lebar bangunan lebih besar dari setengah atau kurang dari sepertiga panjangnya. Di salah satu ujung basilika terdapat pintu masuk dengan sebuah portico [= serambi beratap yang ditopang tiang-tiang], dan di ujung lainnya terdapat sebuah apsis [= ceruk dengan segibanyak atau berbentuk setengah lingkaran, dengan atap yang melengkung atau berbentuk kubah]. Terdapat sebuah lorong utama yang diapit di sisi kiri dan kanannya oleh sebuah lorong (atau dua, atau bahkan tiga) dengan kolom-kolom yang memisahkan lorong-lorong itu. Karena langit-langit dari lorong utama lebih tinggi dari langit-langit lorong-lorong samping, maka sebuah clerestory [= bagian atas dinding dengan jendela-jendela] ditambahkan di atas kolom-kolom guna membiarkan cahaya masuk ke dalam basilika. Ada banyak contoh basilika kuno, terutama di Italia.

Ketika Gereja diijinkan untuk mempunyai “gereja-gereja” setelah disahkannya kekristenan, bentuk basilika dengan mudah diambil. Sesungguhnya, banyak dari basilika umum kuno atau basilika kuil kafir diubah menjadi gereja-gereja: cathedra uskup, atau tahta uskup, diletakkan di bagian apsis dengan diapit tempat-tempat duduk bagi klerus. Di depan cathedra terdapat altar dengan canopy [= langit-langit dari kain atau bahan lainnya yang menaungi altar] atau baldachino [= canopy di atas altar, tokoh, benda yang dihormati] di atasnya. Dekat altar terdapat ambo. Karena ukuran basilika, Sakramen Mahakudus disimpan dalam sebuah kapel di samping atau bahkan dalam sebuah tabernakel gantung dekat altar. Jemaat berkumpul di lorong utama, yakni Panti Umat. Gereja-gereja basilika biasanya mempunyai sebuah halaman depan yang dikelilingi suatu barisan kolom; terdapat sebuah sumur di halaman depan ini di mana umat beriman dapat membasuh tangan dan bibir mereka sebelum masuk untuk merayakan Misa. Di kemudian hari, dilakukan modifikasi-modifikasi pada gaya Romawi yang baku itu, seperti penambahan sayap, pada masa Romanesque dan Gothic.

Selanjutnya, istilah basilika dipergunakan untuk menyebut gereja-gereja yang mempunyai nilai historis dan spiritual yang penting. Pada umumnya, gereja-gereja ini dibangun dengan gaya basilika, tetapi kriteria kuncinya adalah bahwa gereja-gereja ini merupakan tempat-tempat yang mempunyai nilai historis dan spiritual yang penting. Bapa Suci secara resmi menetapkan sebuah gereja sebagai “basilika”. Sebab itu, ketika orang berbicara mengenai Basilika St Petrus di Roma, gelar “basilika” menunjuk pada nilai historis dan spiritual gereja itu sendiri dan kehormatan yang dianugerahkan atasnya oleh paus.

Menurut tradisi, suatu basilika mempertontonkan sebuah conopoeum atau pavilion (sesuatu serupa sebuah payung besar) yang dibuat dari sutera merah dan kuning berselang-seling, warna-warna pemerintahan kepausan, dan dengan salib di puncaknya; conopoeum ini pada mulanya dipergunakan untuk menaungi patriarkh. Benda-benda tradisional basilika lainnya adalah clochetta (semacam alat musik yang terdiri dari gagang, sebuah lonceng, dan lencana basilika, yang dipergunakan dalam prosesi) dan cappa magna (sehelai mantol ungu yang dikenakan oleh para kanon (para imam pejabat basilika) dalam upacara-upacara liturgis.

Yang terakhir, setiap basilika mempunyai sebuah “gerbang suci” yang dibuka hanya pada masa ziarah khusus seperti yang dimaklumkan oleh Bapa Suci. Misalnya, tahun 2000 dimaklumkan sebagai “Tahun Suci”, dan gerbang suci St Petrus dibuka (juga semua gerbang suci di segenap basilika lainnya). Suatu indulgensi khusus juga diberikan kepada para peziarah yang mengunjungi basilika dan memenuhi syarat-syarat lain yang ditentukan.

Menurut tradisi, diadakan pembedaan juga antara basilika utama dan basilika kecil. Tujuh basilika utama berada di Roma: St. Petrus di Vatican, St. Yohanes Lateran, St. Maria Maggiore, St. Paulus di Luar Tembok, St. Laurentius, St. Sebastianus dan Salib Suci di Yerusalem. Keempat basilika pertama dari ketujuh basilika tersebut secara teknis disebut “basilika paling utama”. Ketujuh basilika utama ini tetap merupakan gereja-gereja ziarah yang penting dikunjungi apabila kita mengunjungi Roma.

Sebuah basilika kecil adalah gereja penting lainnya di Roma ataupun di seluruh dunia, yang secara resmi dimaklumkan sebagai “basilika” oleh Bapa Suci. Contoh basilika kecil adalah Basilica of the National Shrine of the Immaculate Conception di Washington atau Basilica of the Sacred Heart di Hanover, Pa.

Katedral adalah gereja utama dari sebuah keuskupan, dan katedral itu sendiri adalah juga sebuah gereja paroki. Secara teknis, Uskup adalah pastor kepala paroki dari paroki katedral, dan Uskup menunjuk seorang rektor untuk mengatur urusan-urusan spiritual dan duniawinya. Kata “katedral” berasal dari bahasa Latin “cathedra” yang berarti tahta. Cathedra melambangkan kedudukan dan otoritas uskup, dan tempat di mana ia tinggal dalam wilayah wewenangnya. Cathedra ditempatkan dalam katedral dekat altar, seringkali di bagian apsis. Sebuah katedral dapat berupa sebuah basilika. Sebagai misal, Katedral St Petrus dan Paulus di Keuskupan Agung Philadelphia adalah juga sebuah basilika.

Tempat ziarah adalah sebuah gereja atau tempat sakral lainnya di mana disimpan relikwi, misalnya Shrine of St. Jude di Baltimore; atau tempat di mana penampakan terjadi, misalnya Shrine of Our Lady of Knock di Irlandia atau Shrine of Our Lady of Guadalupe di Mexico City; atau tempat di mana suatu peristiwa iman yang bersejarah terjadi, misalnya Shrine of the Our Lady of the Martyrs di Auriesville, N.Y., di mana para misionaris Yesuit pertama wafat dimartir. Suatu tempat ziarah dapat juga merupakan tempat yang ditunjuk untuk menumbuhkembangkan suatu keyakinan atau devosi; sebagai contoh Basilica Shrine of the Immaculate Conception dibangun untuk menumbuhkembangkan devosi kepada Bunda Maria di Amerika Serikat, teristimewa karena Bunda Maria adalah pelindung Amerika dengan gelarnya Yang Dikandung Tanpa Dosa. Tempat-tempat ziarah berada di bawah wewenang uskup setempat, dan tempat-tempat ziarah nasional ditetapkan oleh konferensi waligereja.

Merangkum semuanya, Basilica of the National Shrine of the Assumption of the Blessed Virgin Mary di Baltimore, Md., (yang mempertontonkan conopoeum) bukan hanya sebuah basilika dan tempat ziarah, melainkan juga co-cathedral dari Keuskupan Agung Baltimore dan katedral Katolik pertama di Amerika Serikat. Jadi, suatu gereja dapat serentak merupakan suatu basilika, katedral dan tempat ziarah.

* Fr. Saunders is pastor of Our Lady of Hope Parish in Potomac Falls and a professor of catechetics and theology at Christendom's Notre Dame Graduate School in Alexandria.

sumber : “Straight Answers: Exploring Basilicas, Cathedrals, Shrines” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2005 Arlington Catholic Herald. All rights reserved; www.catholicherald.com

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”