Surga


  Suatu hari, aku melihat dua jalan. Yang satu lebar, berselimutkan pasir dan bunga-bunga, penuh riang-ria, musik dan segala macam kesenangan. Orang berjalan menapakinya, menari-nari dan berpesta-pora. Mereka tiba di ujung jalan tanpa menyadarinya. Di ujung jalan terdapat suatu jurang yang sangat mengerikan; itulah jurang neraka. Jiwa-jiwa jatuh secara membabi-buta ke dalamnya; sementara berjalan, mereka berjatuhan. Jumlah mereka sungguh amat banyak hingga mustahil menghitung mereka. Aku melihat jalan yang lain, atau tepatnya jalan setapak, sebab jalan itu sempit, onak duri dan bebatuan bertebaran di atasnya; orang-orang yang menapakinya bercucuran airmata, segala macam sengsara menimpa mereka. Sebagian terjatuh di atas bebatuan, tetapi segera bangkit dan terus maju. Di ujung jalan terdapat suatu taman yang indah mempesona penuh dengan berbagai macam sukacita, dan segenap jiwa-jiwa ini masuk ke dalamnya. Seketika itu juga mereka lupa akan segala penderitaan mereka. (153)

  Ketika aku di Kickers (1930) guna menggantikan salah seorang suster untuk jangka waktu yang singkat, suatu siang aku berjalan melintasi taman dan berhenti di tepi danau; lama aku berdiri di sana, menikmati sekelilingku. Sekonyong-konyong aku melihat Tuhan Yesus di dekatku, dengan lembut Ia berkata, “Semua ini Aku ciptakan untukmu, mempelai-Ku; ketahuilah bahwa segala keindahan ini tak ada artinya dibandingkan dengan apa yang telah Aku persiapkan untukmu dalam keabadian.” Jiwaku diliputi penghiburan begitu rupa hingga aku tinggal di sana sampai sore hari, yang bagiku serasa sekejap saja. Hari itu adalah hari bebasku, yang disisihkan untuk retret satu hari, sehingga aku cukup bebas mempersembahkan diriku dalam doa. Oh, betapa Allah, yang kebaikan-Nya tak terhingga, melimpahi kita dengan kebajikan-kebajikan-Nya! Kerap kali terjadi bahwa Tuhan menganugerahiku karunia-karunia terbesar saat aku sama sekali tak mengharapkannya. (158)

  Setelah aku pergi ke refectory pada waktu membaca, seluruh keberadaanku mendapati dirinya tengelam dalam Tuhan. Secara batin, aku melihat Tuhan memandangi kami dengan sukacita yang besar, aku tinggal seorang diri dengan Bapa Surgawi. Pada saat itu, aku mendapatkan pemahaman yang terlebih mendalam akan Ketiga Pribadi Allah, kepada siapa sepatutnya kita mengkontemplasikan segala kekekalan dan, setelah berjuta-juta tahun, akan mendapati bahwa kita baru saja memulai kontemplasi kita. Oh, betapa luar biasa kerahiman ilahi, yang mengijinkan manusia untuk ikut ambil bagian dalam tingkat yang begitu tinggi dalam kebahagiaan ilahi-Nya! Pada saat yang sama, betapa hebat sakit hatiku terkoyak-koyak mendapati begitu banyak jiwa telah menolak kebahagiaan ini. (1439)

  Februari 1938. Pada waktu meditasi, Tuhan memberiku pemahaman akan sukacita surgawi dan akan para kudus setibanya kita di sana; mereka mengasihi Tuhan sebagai satu-satunya tumpuan kasih mereka, namun demikian mereka juga memiliki kasih yang lembut dan tulus bagi kita. Dari wajah Allah sukacita ini memancar kepada semuanya, sebab kita melihat-Nya muka dengan muka. Wajah Allah begitu manis hingga jiwa jatuh kembali ke dalam ekstasi. (1592)

  Ketika pada waktu adorasi aku mengulang-ulang doa, “Allah yang Kudus” beberapa kali, suatu kehadiran Allah yang nyata sekonyong-konyong meliputiku, dan aku terperangkap dalam roh di hadapan keagungan Tuhan. Aku melihat bagaimana para malaikat dan para kudus memuliakan Tuhan. Kemuliaan Tuhan begitu dahsyat hingga aku tak berani untuk berusaha menggambarkannya, sebab aku tak akan mampu melakukannya, dan jiwa-jiwa akan berpikiran bahwa aku sudah menuliskan semuanya. St Paulus, aku mengerti sekarang mengapa engkau tak hendak menggambarkan surga, melainkan hanya mengatakan bahwa apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia…. Sekarang aku telah melihat dengan cara bagaimana aku memuliakan Allah; oh betapa suatu kemalangan! Dan betapa bagai setetes kecil air dibandingkan dengan kemuliaan surgawi yang sempurna. (1604)


sumber : “Heaven ~ from The Diary of the Servant of God Sister M. Faustina Kowalska”; www.catholic-forum.com/churches/cathteach
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”