Jiwa-jiwa di Api Penyucian


  (Esok malam) Aku melihat malaikat pelindungku yang memintaku untuk mengikutinya. Dalam sekejap aku berada di suatu tempat berkabut penuh api di mana terdapat suatu himpunan besar jiwa-jiwa menderita. Mereka berdoa dengan sungguh-sungguh bagi diri mereka sendiri, tetapi sia-sia belaka; hanya kita yang dapat menolong mereka. Kobaran api yang membakar mereka tak menyentuhku sama sekali. Malaikat pelindung tak sekejap pun meninggalkanku. Aku bertanya kepada jiwa-jiwa ini apakah penderitaan mereka yang paling hebat. Serempak mereka menjawab bahwa siksaan yang paling dahsyat adalah kerinduan akan Tuhan. Aku melihat Santa Perawan mengunjungi jiwa-jiwa di api penyucian. Jiwa-jiwa menyebutnya Kartika Samudera. Santa Perawan mendatangkan kelegaan bagi mereka. Aku ingin berbicara lebih lanjut kepada mereka, tetapi malaikat pelindung memberi isyarat kepadaku untuk segera pergi. Kami keluar dari kurungan sengsara. (Aku mendengar suara batin), “Belas kasih-Ku tak menghendaki ini, tetapi keadilan menuntutnya.” Sejak saat itu, aku memiliki hubungan yang lebih erat dengan jiwa-jiwa menderita. (20)

  Suatu hari, seorang suster yang telah meninggal dua bulan sebelumnya datang kepadaku. Ia adalah suster dari paduan suara pertama. Aku melihatnya dalam keadaan yang mengerikan, sepenuhnya dilahap api dan wajahnya rusak ngeri. Hal ini berlangsung hanya sekejap saja, lalu ia pun lenyap. Kegentaran hebat merayapi jiwaku sebab aku tidak tahu apakah ia ada di api penyucian atau di neraka. Walau demikian, aku melipatgandakan doa-doaku untuknya. Keesokan malam ia datang kembali; aku melihatnya dalam keadaan yang lebih mengerikan, di tengah-tengah api yang bahkan lebih berkobar-kobar, keputusasaan terpancar jelas di setiap guratan wajahnya. Aku terperanjat melihatnya dalam keadaan yang lebih buruk sesudah doa-doa yang aku panjatkan baginya, maka aku bertanya, “Tidakkah doa-doaku menolongmu?” Ia menjawab bahwa doa-doaku tak menolongnya dan bahwa tak suatu pun yang akan dapat menolongnya. Aku bertanya, “Dan doa-doa yang dipersembahkan seluruh komunitas bagimu; tidakkah doa-doa itu menolongmu sama sekali?” Ia mengatakan tidak; doa-doa itu telah menyelamatkan jiwa-jiwa lain. Jadi kataku, “Jika doa-doaku tidak menolongmu, Suster, tolong janganlah datang lagi kepadaku.” Ia pun lenyap seketika. Walau demikian, aku terus berdoa untuknya.

Selang beberapa waktu ia datang kembali kepadaku pada waktu malam, tetapi penampilannya telah berubah. Tak ada lagi api seperti sebelumnya; wajahnya bercahaya, matanya bersinar-sinar penuh sukacita. Ia mengatakan bahwa aku memiliki kasih sejati bagi sesama dan bahwa banyak jiwa-jiwa lain mendapatkan manfaat dari doa-doaku. Ia mendorongku untuk tak henti-hentinya berdoa bagi jiwa-jiwa di purgatorium; ia menambahkan bahwa ia sendiri tak akan lama lagi tinggal di sana. Betapa mencengangkannya keputusanmu, Tuhan! (58)

  Kala aku pergi ke kebun suatu siang, malaikat pelindungku mengatakan, “Berdoalah bagi mereka yang menghadapi ajal.” Maka, seketika itu juga aku mulai mendaraskan rosario bersama para pekerja kebun bagi mereka yang menghadapi ajal. Setelah rosario, kami mendaraskan berbagai macam doa bagi mereka yang di ambang maut. Selesai berdoa, murid-murid mulai berceloteh gembira di antara mereka. Kendati kegaduhan yang mereka timbulkan, aku mendengar kata-kata ini dalam jiwaku, “Berdoalah untukku!” Tetapi, karena tak dapat mengerti perkataan ini dengan baik, aku menjauh beberapa langkah dari para murid, sembari memikirkan siapakah gerangan yang kiranya memintaku untuk berdoa. Lalu, aku mendengar kata-kata ini, “Aku, Suster….” Suster ini berada di Warsawa sementara aku, pada saat itu, berada di Vilnius. “Berdoalah untukku hingga aku memintamu berhenti. Aku sedang menghadapi sakrat maut.” Segera aku mulai berdoa dengan khusuk untuknya, (menghadirkan diri) di hadapan Hati Yesus yang sedang meregang nyawa. Suster tak membiarkanku beristirahat, dan aku terus berdoa dari (pukul) tiga hingga lima sore. Pukul lima, aku mendengar kata-kata, “Terima kasih!” dan aku mengerti bahwa ia telah meninggal dunia. Tetapi, dalam Misa Kudus keesokan harinya, aku terus berdoa dengan khusuk bagi jiwanya. Siang hari, sebuah kartu pos datang mengabarkan bahwa Suster … telah meninggal dunia pada saat dan waktu itu. Aku tahu bahwa tepat pada waktu yang sama itulah ia mengatakan kepadaku “Berdoalah untukku.” (315)  

 Sore ini, salah seorang dari para biarawati yang telah meninggal dunia datang dan meminta padaku satu hari berpuasa dan mempersembahkan segala latihan [rohani]ku pada hari itu untuknya. Aku menjawab bahwa aku akan melakukannya. Sejak dini hari berikutnya, aku mempersembahkan semua untuk intensinya. Pada waktu Misa Kudus, aku mengalami secara singkat sengsaranya. Aku merasakan kerinduan yang begitu dahsyat akan Tuhan hingga tampaknya aku akan mati oleh kerinduan untuk bersatu dengan-Nya. Hal ini berlangsung beberapa saat saja, tetapi aku mengerti seperti apa kerinduan jiwa-jiwa di api penyucian itu. (1185-6)


sumber : “Souls in Purgatory ~ from The Diary of the Servant of God Sister M. Faustina Kowalska”; www.catholic-forum.com/churches/cathteach
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”