Katekese tentang Kerakusan
oleh: St. Yohanes Maria Vianney
St. Yohanes Maria Vianney
Kerakusan adalah cinta yang berlebihan akan makanan dan minuman.

Kita rakus, anak-anakku, apabila kita makan berlebihan, lebih banyak daripada yang dibutuhkan untuk menunjang tubuh kita yang lemah; apabila kita minum melampaui apa yang dibutuhkan, hingga bahkan kehilangan kesadaran dan akal budi kita.... Wahai, betapa memalukannya kebiasaan buruk ini! Betapa kebiasaan buruk ini merendahkan kita! Lihatlah, ia menempatkan kita di bawah hewan: binatang-binatang tidak pernah minum lebih dari yang dibutuhkan untuk memuaskan dahaga mereka: mereka berpuas diri dengan makan cukup; sementara kita, ketika kita telah memuaskan nafsu makan kita, ketika tubuh kita tak sanggup menampung lebih banyak lagi, kita masih memiliki beraneka ragam makanan kecil; kita minum anggur dan minuman keras hingga kekenyangan! Tidakkah ini menyedihkan? Kita tak lagi sanggup menjejakkan kaki kita; kita jatuh, kita bergelimpangan ke dalam selokan dan ke dalam lumpur, kita menjadi bahan tertawaan semua orang, termasuk bahan olok-olok anak-anak kecil....

Andai maut sekonyong-konyong menghampiri kita dalam keadaan ini, anak-anakku, kita tak akan memiliki waktu untuk merenungkan diri sendiri; kita akan jatuh dalam keadaan demikian ke dalam tangan-tangan Allah yang baik. Betapa celakanya, anak-anakku! Betapa jiwa kita akan terkejut! Betapa jiwa kita akan terperanjat! Patutlah kita gemetar karena ngeri melihat mereka yang tersesat yang ada di neraka.... Janganlah kita dikuasai oleh nafsu makan kita; kita akan merusakkan kesehatan kita, kita akan kehilangan jiwa kita…. Lihatlah, anak-anakku, pelahap dan peminum adalah penyokong para dokter; yang membiarkan mereka hidup, dan menjalankan banyak praktek…. Kita mendengar setiap hari, bagaimana seorang yang seperti itu mabuk, dan saat jatuh patahlah kakinya; yang lainnya, menyeberangi sungai dengan meniti sebilah papan, lalu jatuh tercebur ke dalam sungai dan tenggelam…. Kerakusan dan kemabukan adalah karib orang-orang kaya yang jahat…. Sekejap kenikmatan di dunia ini mengakibatkan kita membayar sangat mahal di dunia yang lain. Di sana mereka akan disiksa dengan kelaparan yang hebat dan kehausan yang sangat; mereka bahkan tak mendapatkan setetes air guna menyegarkan mereka; lidah mereka dan tubuh mereka akan dilalap api sepanjang kekekalan masa….

Wahai anak-anakku! kita tidak memikirkannya; namun hal yang demikian pasti terjadi atas sebagian dari antara kita, mungkin bahkan sebelum tahun ini berakhir! Santo Paulus mengatakan bahwa mereka yang takluk pada makanan dan minuman tidak akan memiliki kerajaan Allah. Marilah kita merenungkan kata-kata ini! Lihatlah para kudus: mereka melewatkan hidup mereka dalam matiraga, sementara kita melewatkan hidup kita di tengah segala kenikmatan dan pesta-pora. Santa Elizabeth, Ratu Portugal, berpuasa sepanjang Masa Adven, dan juga dari pesta St Yohanes Pembaptis hingga ke HR Maria Diangkat ke Suga. Segera kemudian, ia memulai Prapaskah yang lain, yang berakhir hingga pesta St Mikhael. Ia hidup dari roti dan air saja pada hari-hari Jumat dan Sabtu, dan pada malam vigili pesta-pesta Santa Perawan Maria dan para Rasul. Mereka mengatakan bahwa St Bernardus minum minyak sebagai ganti anggur. St Isidorus tidak pernah makan tanpa mencucurkan airmata! Apabila kita adalah umat Kristiani yang baik, patutlah kita melakukan seperti apa yang telah dilakukan para kudus.

Kita akan mendapatkan banyak ganjaran surga lewat makanan kita; hendaknya kita menjauhkan diri dari banyak hal-hal kecil yang, tanpa mencelakakan tubuh kita, dapat sangat menyenangkan Allah yang baik; tetapi kita lebih memilih memuaskan nafsu makan kita daripada menyenangkan Allah; kita tenggelam, kita memperdayakan jiwa kita dengan makanan dan minuman. Anak-anakku, Tuhan tidak akan mengatakan pada Hari Penghakiman, “Berikanlah pada-Ku pertanggung-jawaban atas tubuhmu”; melainkan, “Berikanlah pada-Ku pertanggung-jawaban atas jiwamu; apakah yang telah engkau perbuat dengannya?”…. Bagaimanakah kita akan menjawab-Nya? Apakah kita memberikan perhatian kepada jiwa sebanyak kita memberikan perhatian kepada tubuh? Ah, anak-anakku! marilah kita tidak lagi hidup demi kenikmatan makanan; marilah kita hidup seperti apa yang telah dilakukan para kudus; marilah kita bermatiraga seperti mereka bermatiraga. Para kudus tidak pernah memanjakan diri dalam kenikmatan pesta pora. Sukacita mereka adalah Yesus Kristus! Marilah kita mengikuti teladan hidup mereka di dunia ini, dan maka kita pun akan memperoleh mahkota seperti yang mereka kenakan di surga.

sumber : “Catechism on Gluttony by Saint John Vianney”; www.catholic-forum.com
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”