Panggilan Untuk Bersaksi
oleh: P. Gregorius Kaha, SVD


Dengan kerendahan hati, kita diajak untuk bercermin pada kesaksian seorang anak dalam:

“Doa Seorang Anak Sekolah Minggu”

Tuhan, sudah 120 kali aku minta pada-Mu
agar Tuhan mengganti guru sekolah mingguku.
Jangan kirim padaku
seorang guru sekolah minggu yang tidak siap.
Jangan kirim padaku
seorang guru sekolah minggu yang sering terlambat.
Jangan kirim padaku
seorang guru sekolah minggu yang ketus dan galak.
Jangan kirim padaku
seorang guru sekolah minggu yang tidak sayang padaku.

Tapi kirimkan padaku seorang guru yang baik seperti Engkau;
tidak usah indah suaranya, namun ramah senyumnya
tidak usah cantik parasnya, namun menarik pribadinya
tidak usah tegap badannya, namun lembut hatinya
tidak usah bagus bajunya, namun rendah hatinya
tidak usah baik ceritanya, namun Kristus hidupnya.

Agar ketika aku sedih, aku dapat menangis dipelukannya
ketika aku gembira, aku dapat tertawa bersamanya
ketika papa dan mama berselisih, aku dapat berdoa dengannya.
Tuhan, aku ingin guru sekolah minggu yang baik seperti-Mu. (NN)

Panggilan apapun bentuknya dalam kehidupan kita adalah rahmat sekaligus tugas dan
tanggung jawab. Sejak pembaptisan, setiap kita dimaterai menjadi milik Kristus dan menerima Kristus hidup dalam hati kita. Kita dipanggil untuk memberi kesaksian tentang Dia dalam kehidupan nyata kita. Inti dari doa si anak tadi adalah agar guru sekolah minggunya membawa Yesus dalam seluruh karya pewartaannya.

Kata-kata kunci dalam bacaan-bacaan suci hari ini adalah menjadi Nabi - Hamba Yahwe dan Rasul. Tugas seorang nabi sebenarnya dalam bacaan Injil menjadi nampak dalam tugas seorang Yohanes Pembaptis, yakni membawa setiap orang kepada Yesus sebagai Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia. Artinya, seorang nabi harus berani berkorban dan tetap setia pada kehendak Allah. Alur pikir ini sama dengan tugas seorang Hamba Yahwe seperti dilukiskan dalam bacaan pertama. Seorang Hamba Yahwe mempunyai tugas menyatukan bangsa Israel yang tercerai-berai. Hamba Yahwe juga menjadi terang yang menghantar bangsa-bangsa lain kepada keselamatan. Dia berkorban dan berusaha melaksanakan kehendak Yahwe dalam hidup.

Sebagai orang yang percaya, Rasul Paulus dalam bacaan kedua, mengingatkan kita pada panggilan utama kita yakni menjadi rasul - mewartakan Kristus ke dan di tengah dunia. Tentu orientasi ajakan ini ada pada kesaksian hidup sehari-hari. Jauh sesudah itu, Paus Yohanes Paulus II kembali menegaskan bahwa panggilan setiap orang yang dibaptis dulu hingga hari ini adalah memberi kesaksian. Kita menyadari bahwa kesaksian hidup menuntut banyak hal dari diri kita; seperti Yohanes rela melepaskan semuanya untuk Yesus, demikian setiap kita pun boleh berani meninggalkan egoisme kita demi Kristus. Dalam kelemahan dan keterbatasan kita, hendaknya kita pun tetap berusaha untuk selalu menghantar orang lain sampai kepada Yesus. “Lihat, itulah Anak Domba Allah yang menghapus dosa-dosa dunia.”