Supaya Kamu Saling Mengasihi!
(catatan perpisahan seorang Guru)
oleh: P. Gregorius Kaha, SVD

Di mana-mana perpisahan membawa risiko. Pesan yang biasanya disampaikan di saat perpisahan merupakan pesan yang penting dan bersifat mendesak. Kita sering dengar orang katakan kalau tidak mau berpisah, jangan bertemu. Perjumpaan Yesus dengan murid-murid-Nya bukan hanya membawa kesan yang mendalam tetapi juga ada konsekwensinya, yakni cepat atau lambat mesti ada perpisahan. Dalam konteks yang penting dan mendesak itulah Yesus menegaskan pesan kepada para murid-Nya untuk saling mengasihi.

Ternyata menurut Yesus, CINTA KASIH bukan hanya menjadi identitas orang beriman (“agar semua orang mengetahui bahwa kamu adalah murid-Ku.”) tetapi semacam napas hidup bagi setiap orang beriman (“siapa yang tidak mengasihi, dia bukan berasal dari Allah”). Maka tak mengherankan jika pada saat perpisahan itu dengan sangat tegas Yesus mengatakan: Aku memberikan perintah baru kepadamu yaitu supaya kamu saling mengasihi seperti Aku telah mengasihi kamu. Artinya bahwa dasar, sumber atau inspirasi supaya orang mengasihi bukan karena orang itu hebat, lebih saleh, lebih suci dll, tetapi justru orang mengasihi karena dia sudah lebih dahulu dikasihi oleh Tuhan. Kesadaran macam inilah yang membuat orang dapat masuk dalam pengalaman untuk mengasihi orang lain secara tulus tanpa pamrih.

Maka di hari Minggu Paska kelima ini, gereja mengajak kita untuk merenungkan model kasih yang harus dimiliki oleh setiap murid, yakni kasih Yesus - Sang Guru. Saya mengutip empat unsur berikut guna memperlihatkan kepada kita bagaimana Yesus mengasihi para murid-Nya:

1. Yesus mengasihi para murid tanpa memikirkan kepentingan dirinya sendiri. Aspek ini berhubungan sangat kuat dengan komitmen Yesus: datang untuk menyelamatkan manusia sesuai dengan amanat Bapa. Kalau setiap murid ingin masuk dalam tindakan kasih, perlu ada KOMITMEN yang berlandaskan kasih. Banyak orang terlibat dalam perbuatan-perbuatan baik tetapi dengan motif yang berbeda. Contoh: banyak orang membantu orang miskin, memberi makan yang lapar, karena tugas atau pekerjaannya; lain orang memberi sumbangan kepada yang menderita memang karena didesak / diminta, bukan karena kasih, sehingga kalau bukan tugas / pekerjaannya, kalau tidak diminta, tidak ada reaksi apa-apa. Jadi setiap tindakan baik butuh komitmen kasih. Komitmen ini menjauhkan orang dari kepentingan dirinya sendiri.

2. Kasih Yesus kepada para murid berakar pada semangat pengorbanan. Unsur ini berkaitan dengan penyerahan diri Yesus secara total pada panggilan perutusan-Nya. Mengasihi orang lain perlu semangat kerendahan hati dan pengorbanan. Karena dalam proses itu kadang kita harus berani mematikan” kecenderungan-kecenderungan yang membuat kita merasa berbeda dengan orang lain. Kasih kepada orang lain tanpa pengorbanan adalah sesuatu yang sulit, kalau tidak bisa disebut mustahil.

3. Yesus mengasihi para murid-Nya dengan penuh pengerlian. Yesus mengenal para murid dan para murid mengenal Dia. Hubungan mesra itu bisa terjadi kalau mereka tinggal bersama-sama dengan Dia (=hidup bersama dengan Yesus). Dalam kebersamaan itu mereka saling mengenal dan terbuka menerima satu sama lain. Suasana kasih bisa terwujud kalau orang saling mengenal, atau sekurang-kurangnya, kalau orang terbuka hatinya kepada sesama. Sifat curiga, dendam dan iri hati adalah lahan buruk untuk tumbuhnya suasana kasih itu.

4. Kasih Yesus kepada para murid bersifat mengampuni. Kalau kita amati kebersamaan Yesus dengan para murid kadang diwarnai oleh sikap tidak setia dari para murid; mereka meninggalkan Dia, mereka ragu-ragu dan sulit mengerti Yesus dengan baik; kadang mereka itu mencela dan protes pada Yesus. Tetapi Yesus tidak membenci mereka, Dia justru setia menerima dan sabar mendampingi mereka. Kasih yang sejati perlu ada unsur pengampunan. Memang benar kasih yang tidak belajar untuk mengampuni adalah kasih yang kering lalu mati.

Kita merindukan dunia kita aman sentosa, kita menginginkan masyarakat kita damai sejahtera, kita rindu gereja kita bertumbuh dan berkembang dalam suasana kasih. Semua itu harus bermula dari DIRI KITA - KELUARGA KITA - KOMUNITAS KITA, maka:

Berhentilah bertanya apakah orang sudah mengasihi saya / keluarga saya, tetapi mulailah bertanya apakah saya / keluarga saya sudah berusaha mengasihi orang lain dengan hati tulus?