YESAYA    
Edisi YESAYA   |   Bunda Maria   |   Santa & Santo   |   Doa & Devosi   |   Serba-Serbi Iman Katolik   |   Artikel   |   Anda Bertanya, Kami Menjawab
Dapatkah Paus Mengundurkan Diri?
oleh: Romo William P. Saunders *

Sejak Paus Yohanes Paulus II jatuh sakit, mass media memberitakan mengenai kemungkinan pengunduran dirinya. Dapatkah seorang paus mengundurkan diri? Pernahkah seorang paus mengundurkan diri dalam sejarah?
~ seorang pembaca di Alexandria

Bapa Suci dapat mengundurkan diri jika ia menghendakinya. Kitab Hukum Kanonik menyatakan, “Apabila Paus mengundurkan diri dari jabatannya, maka untuk sahnya dituntut agar pengunduran diri itu terjadi dengan bebas dan dinyatakan semestinya, tetapi tidak dituntut bahwa harus diterima oleh siapa pun” (Kan 332 no 2). Namun demikian, jika seorang paus dipilih sebagai Penerus St Petrus, Gereja mengharapkan bahwa ia tetap mengemban jabatannya hingga akhir hayatnya.

Dalam kenyataannya, sepanjang sejarah Gereja, beberapa paus mengundurkan diri karena berbagai alasan, sementara beberapa lainnya diturunkan dari tahtanya karena berbagai alasan pula. Paus pertama yang mengundurkan diri adalah Paus St Pontianus yang dipilih sebagai Penerus St Petrus pada tanggal 21 Juli 230. Dalam masa penganiayaan umat Kristiani di bawah Kaisar Maximinus Thrax, St Pontianus dibuang ke Sardinia dan dijatuhi hukuman kerja paksa di tambang garam, di mana tak seorang pun diharapkan keluar dalam keadaan hidup dari sana. Sebab itu, ia mengundurkan diri sebagai paus pada tanggal 28 September 235 guna memungkinkan pemilihan seorang paus baru, St. Anterus, yang dapat menggembalakan Gereja. Paus St Pontianus wafat sebagai martir pada tahun 236 (atau 237), karena perlakuan keji terhadapnya atau karena suatu pukulan yang mematikan.

Di lain pihak, Paus St Silverius, yang dinobatkan sebagai paus pada tanggal 1 Juni 536, adalah paus pertama yang dipaksa turun tahta. Pada bulan Maret 537, Ratu Byzantine yang jahat - Theodora - memerintahkan agar Paus St Silverius ditangkap dan dibuang dari Roma karena tidak menyetujui para calon kafir yang diajukannya sebagai uskup. Ia dibuang ke pulau Palmaria di mana ia ditawan hingga akhir hayatnya pada tanggal 11 November 537. Karena Paus St Silverius dimaklumkan sebagai “diturunkan tahta,” para klerus dan rakyat Roma memilih Paus Vigilius yang dinobatkan pada tanggal 29 Maret 537, (ia disukai ratu).

Peristiwa serupa menimpa Paus St Martin I, yang dinobatkan sebagai paus pada bulan Juli 649. Paus St Martin menentang usaha Kaisar Byzantine untuk menyebarkan bidaah monoteletisme dan mengangkat uskup-uskup kafir. Kaisar memerintahkan agar St Martin diculik, dibawa ke Konstantinopel, diturunkan dari tahtanya, dijatuhi hukuman dan diasingkan. Paus St Martin wafat di Crimea pada tanggal 16 September 656 karena perlakuan keji dan terlantar. Paus St Martin I adalah paus terakhir yang wafat sebagai martir.

Paus Benediktus IX memiliki reputasi cemar karena memangku jabatan kepausan untuk tiga masa yang berbeda. Ia adalah kemenakan Paus Benediktus VIII (1012 - 1024) dan Paus Yohanes XIX (1024 - 1032), juga anggota salah satu keluarga yang amat berpengaruh. Setelah wafat Paus Yohanes XIX pada tahun 1032, ayah Benediktus, Alberic, menyuap, memanipulasi serta mengancam para klerus Roma agar memilih puteranya sebagai paus. Benediktus masih sangat muda, tanpa pengalaman dan sama sekali buta masalah gerejani. Sebagian besar ahli sejarah dengan sedih mencatat masa kepausan Benediktus IX sebagai titik terendah sepanjang sejarah para paus. Setelah berbagai macam persekongkolan yang memalukan, kaum klerus dan rakyat Roma memaksanya pergi, menurunkannya dari tahta dan memilih seorang paus, Sylvester III (nama aslinya Yohanes, Uskup Sabina).

Paus Sylvester III dinobatkan pada tanggal 20 Januari 1045. Tetapi, Benediktus dan bala tentaranya berhasil menggalang kekuatan dan mereka menurunkan Sylvester III dari tahta pada tanggal 10 Februari 1945; sebab itu, masa pontifikat Sylvester III hanya berlangsung selama 22 hari saja.

Jadi, coba terka, siapa yang menjadi paus lagi? Benediktus IX. Ia secara resmi dinobatkan kembali sebagai paus pada tanggal 10 April 1045. Namun demikian, ia mengundurkan diri 21 hari kemudian pada tanggal 1 Mei 1045. Tampaknya, Benediktus IX dijanjikan sejumlah besar uang dan seorang wanita untuk dinikahinya apabila ia mengundurkan diri dari jabatannya untuk Yohanes Gratian, seorang imam dari Gereja St Yohanes di Porta Latina. Yohanes Gratian dinobatkan sebagai paus pada tanggal 5 Mei 1045 sebagai Paus Gregorius VI.

Tetapi, janji kepada Benediktus IX diingkari, sehingga Benediktus IX menuntut tahtanya kembali. Raja Henry III dari Jerman, yang sangat ingin menata kembali Gereja, mengadakan Konsili Sutri pada tahun 1046 di mana ia mengundang Benediktus IX, Sylvester III dan Gregorius VI. Konsili diselenggarakan pada tanggal 20 Desember 1046. Hanya Sylvester III dan Gregorius VI yang muncul dalam konsili, tetapi ketiga-tiganya diturunkan dari tahta. (Sylvester dan Gregorius akhirnya meninggal dalam pembuangan). Pada tanggal 23 Desember, para klerus dan rakyat Roma memilih Paus Klemens II yang dinobatkan pada tanggal 25 Desember.

Paus Klemens II menobatkan Henry III sebagai Kaisar Roma yang Kudus. Ia juga menetapkan bahwa barangsiapa melakukan simoni (menjual jabatan-jabatan gerejani) akan dikenai ekskomunikasi. Setelah Henry III kembali ke Jerman, coba terka siapa yang muncul kembali untuk menuntut menjadi paus? Benediktus IX. Pada tanggal 9 Oktober 1047, Paus Klemens II wafat karena diracun, kemungkinan oleh orang-orang suruhan Benediktus IX. Lalu, Benediktus IX menobatkan dirinya sendiri sebagai paus pada tanggal 8 November 1047, secara teknis pontifikatnya yang ketiga kalinya. Lagi, Kaisar Henry III campur tangan, menurunkan Benediktus IX dari tahtanya untuk selamanya pada tanggal 17 Juli 1048. Pada hari itu juga Paus Damasus II dinobatkan sebagai paus.

Lalu, apa yang terjadi dengan Paus Benediktus IX, yang tiga kali menjadi paus? Ia mengasingkan diri ke Biara Grottaferrata, di mana ia menyesali segala dosa-dosanya, secara resmi mengundurkan diri sebagai paus dan melewatkan seluruh sisa hidupnya dengan bermati raga. Sementara kisah di atas terasa menyakitkan, kebajikan mulai bersemi. Para paus sesudahnya mengadakan banyak penyempurnaan dalam ketentuan menyangkut simoni dan disiplin klerus. Juga, pada tahun 1059, Paus Nikolaus II menetapkan proses pemilihan paus di mana para kardinal ditunjuk sebagai pemilih suksesi paus.

Paus lain yang mengundurkan diri adalah St Selestine V, yang dipilih sebagai paus pada tanggal 5 Juli 1294 dan dinobatkan pada tanggal 29 Agustus. St Selestine adalah seorang biarawan Benediktin yang menikmati hidup sebagai seorang pertapa dan terkenal karena spiritualitasnya. Guna mengakhiri jalan buntu Dewan Kardinal, ia dipilih sebagai paus meskipun usianya telah 84 tahun. Segera saja ia menjadi korban muslihat para kardinal dan kaum bangsawan. Ia mengundurkan diri pada tanggal 13 Desember 1924 dan kembali ke biaranya. Penerusnya, Paus Bonifasius VIII, memerintahkan agar St Selestine dipenjarakan, agar tak memungkinkan adanya usaha untuk menaikkannya ke tahta lagi. (Pastilah ia teringat akan kasus Benediktus IX.) Paus St Selestine wafat pada tanggal 19 Mei 1295. Walau St Selestine telah dikanonisasi sebagai orang kudus, Dante menempatkannya di Neraka dalam Komedi Ilahi sebagai tempat peristirahatannya.

Paus Gregorius XII (1406 - 1415) terpilih sebagai paus yang sah pada masa di mana ada dua paus tandingan: Paus Avignon - Benediktus XIII - yang didukung oleh raja Perancis; dan Paus Pisa - Yohanes XXIII - yang didukung oleh Konsili Pisa yang diselenggarakan oleh kaum pembelot. (Perlu diingat bahwa kedua nama yang disebut belakangan tersebut bukanlah paus yang sesungguhnya.) Pada akhirnya, dalam Konsili Konstans (yang merupakan konsili resmi), guna memulihkan Gereja, Paus Gregorius XII secara resmi mengundurkan diri, Benediktus XIII mengundurkan diri dan Yohanes XXIII dipaksa turun tahta; lalu dipilihlah Paus Martin V (1417 - 1431) sebagai penerus sah St Petrus, menggantikan Paus Gregorius XII.

Demikianlah, kita temukan berbagai kisah menarik sejarah kepausan, baik mengenai pengunduran diri maupun turun tahta. Ada banyak hal yang dapat kita pelajari dari kisah-kisah di atas: Pertama, jika seorang paus mengundurkan diri dari jabatannya, akan selalu timbul godaan untuk menantang kekuasaan paus yang baru. Kedua, dalam masa-masa modern, Gereja telah diberkati dengan para paus yang sungguh kudus, yang adalah pemimpin-pemimpin yang hebat. Ketiga, Gereja secara mantap telah menjadikan dirinya lebih bebas, lepas dari segala tipu-muslihat politik para pemimpin duniawi.

Bagaimana dengan paus kita yang sekarang? Bapa Suci kita, Paus Yohanes Paulus II, berulangkali mengatakan bahwa ia akan mengabdi selama yang dikehendaki Tuhan. Marilah kita berdoa bagi kesehatannya, juga bagi ujud-ujud umumnya. Sungguh, ia seorang penerus St Petrus yang mengagumkan.

* Fr. Saunders is pastor of Our Lady of Hope Parish in Potomac Falls and a professor of catechetics and theology at Notre Dame Graduate School in Alexandria.
sumber : “Straight Answers: Can the Pope Retire?” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2005 Arlington Catholic Herald. All rights reserved; www.catholicherald.com
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”