YESAYA    
Edisi YESAYA   |   Bunda Maria   |   Santa & Santo   |   Doa & Devosi   |   Serba-Serbi Iman Katolik   |   Artikel   |   Suara Gembala   |   Warta eRKa   |   Yang Menarik & Yang Lucu   |   Anda Bertanya, Kami Menjawab
Dukacita Sengsara Tuhan Kita Yesus Kristus
Bab VIII
Yesus di Hadapan Kayafas


Yesus digiring masuk ke balai pengadilan. Khalayak ramai menyambut-Nya dengan sorak cemooh. Ketika Yesus berjalan melewati Petrus dan Yohanes, Ia melihat mereka dengan ekor mata-Nya, tanpa memalingkan wajah-Nya, agar jangan terungkap identitas mereka. Begitu Ia tiba di ruang sidang, Kayafas berseru dengan suara lantang, “Engkau datang juga akhirnya, Kau musuh Allah, Kau si penghujat, yang mengganggu ketenangan malam yang kudus ini!” Tabung yang berisikan tuduhan-tuduhan Hanas, lambang kekuasaan olok-olok yang ada di tangan Yesus, segera dibuka dan dibaca.

Kayafas berbicara menggunakan kata-kata yang paling menghina. Lagi, para prajurit pembantu menyiksa serta menganiaya Tuhan kita seraya berteriak, “Jawab segera! Berbicaralah! Apakah Kau bisu?” Kayafas, yang perangainya luar biasa congkak dan sombong, menjadi lebih murka daripada Hanas. Ia mencecar-Nya dengan seribu satu pertanyaan. Tetapi, Yesus berdiri di hadapannya diam membisu dengan mata-Nya memandang ke lantai. Para prajurit pembantu berusaha memaksa-Nya berbicara dengan pukulan yang bertubi-tubi. Seorang anak yang jahat, menekankan ibu jarinya ke atas bibir Yesus, sembari mengejek menantang-Nya untuk menggigit. Lalu, para saksi-saksi dipanggil. Pertama adalah saksi-saksi dari kalangan terendah, yang tuduhan-tuduhannya sama kacaunya dan sama berubah-ubahnya seperti yang mereka ajukan di hadapan pengadilan Hanas. Tak satu pun dari tuduhan tersebut dapat dipergunakan oleh sidang. Sebab itu, Kayafas berpaling kepada saksi-saksi utama, yakni kaum Farisi dan kaum Saduki, yang telah berkumpul dari segala penjuru negeri. Para saksi ini berusaha berbicara dengan tenang, tetapi ekspresi wajah dan sikap mereka mengungkapkan rasa iri dan dengki yang memenuhi hati mereka. Terus-menerus mereka mengulang dan mengulang lagi tuduhan-tuduhan yang sama, yang telah dijawab-Nya berulang kali: “Bahwa Ia menyembuhkan orang sakit dan mengusir setan dengan bantuan setan - bahwa Ia mencemarkan hari Sabat - menghasut rakyat untuk memberontak - menyebut kaum Farisi sebagai keturunan ular beludak dan orang-orang munafik - menubuatkan kehancuran Yerusalem - bergaul dengan para pemungut cukai dan orang-orang berdosa - mengumpulkan rakyat dan menyatakan diri sebagai raja, nabi dan Putra Allah.” Mereka mengajukan kesaksian “bahwa Ia senantiasa berbicara tentang kerajaan-Nya - bahwa Ia melarang perceraian - menyebut DiriNya sebagai Roti Hidup, dan mengatakan bahwa barangsiapa tidak makan daging-Nya dan minum darah-Nya tidak akan memiliki hidup yang kekal.”

Begitulah mereka memutarbalikkan serta menyalahartikan sabda-sabda yang diucapkan-Nya, pengajaran-pengajaran yang diajarkan-Nya, dan perumpamaan-perumpamaan dengan mana Ia menerangkan pengajaran-Nya, menyampaikan kepada mereka persamaannya dengan kejahatan mereka. Namun demikian, para saksi ini saling bertentangan dalam pernyataan mereka. Satu orang mengatakan, “Ia menyebut DiriNya raja,” dan segera orang kedua menyanggahnya dengan mengatakan, “Tidak, Ia membiarkan orang menyebut-Nya demikian, tetapi, begitu mereka berusaha menjadikan-Nya raja, Ia melarikan diri.” Yang lain mengatakan, “Ia memaklumkan DiriNya sebagai Putra Allah,” tetapi, orang keempat menyelanya dengan mengatakan, “Tidak, Ia hanya menyebut diri sebagai Putra Allah sebab Ia melakukan kehendak Bapa SurgawiNya.” Beberapa dari para saksi mengatakan bahwa Ia telah menyembuhkan mereka, tetapi penyakit mereka itu kambuh kembali dan bahwa penyembuhan-Nya yang bohong-bohongan itu dilakukan melalui sihir. Begitu pula yang mereka katakan mengenai penyembuhan seorang yang lumpuh di kolam Betsaida, tetapi dengan memutarbalikkan fakta guna mengajukan tuduhan serupa. Namun, bahkan dalam tuduhan-tuduhan ini pun, mereka saling tak setuju, saling bertentangan satu sama lain. Kaum Farisi dari Seforis, dengan siapa Ia pernah berdebat perihal perceraian, menuduh-Nya mengajarkan ajaran-ajaran sesat. Seorang pemuda Nazaret, yang pernah ditolak-Nya sebagai murid, juga cukup keji untuk mengajukan kesaksian melawan Dia.

Sesungguhnya, sama sekali mustahil membuktikan kebenaran satu tuduhan pun. Tampaknya, para saksi maju ke hadapan sidang semata-mata untuk menghina Yesus, lebih daripada membuktikan kebenaran tuduhan-tuduhan mereka. Sementara mereka saling berselisih satu sama lain, Kayafas dan beberapa anggota sidang lainnya menyibukkan diri dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada Yesus dan membelokkan jawaban yang disampaikan-Nya menjadi bahan olok-olok. “Keturunan raja manakah Engkau? Buktikan kuasa-Mu! Panggillah pasukan malaikat yang Kau sebut-sebut di Taman Zaitun itu! Apakah yang telah Kau-lakukan dengan uang yang diserahkan kepada-Mu oleh para janda dan orang-orang tolol lainnya yang Engkau tipu dengan ajaran-ajaran palsu-Mu? Jawab segera; berbicaralah, - apakah Kau bisu? Adalah jauh lebih bijaksana jika Engkau tutup mulut sementara berada di antara khalayak ramai yang dungu: di sana, malahan Engkau berbicara terlalu banyak.”

Segala pertanyaan ini disertai pukulan bertubi oleh para hamba rendahan dari para anggota pengadilan. Andai Tuhan kita tak ditopang dari atas, pastilah Ia tak akan bertahan hidup karena perlakuan yang demikian. Beberapa saksi yang tak bermoral berusaha membuktikan bahwa Ia adalah anak haram; tetapi yang lain memaklumkan bahwa BundaNya adalah seorang Perawan yang saleh, perawan Bait Allah, dan bahwa sesudahnya mereka menyaksikannya bertunangan dengan seorang yang takut akan Allah. Para saksi mencela Yesus dan para murid-Nya karena tidak mempersembahkan kurban di Bait Allah. Memang benar bahwa aku tidak pernah melihat, baik Yesus maupun para murid-Nya, mempersembahkan kurban di Bait Allah, selain dari anak domba Paskah. Tetapi, St. Yosef dan St. Anna, semasa hidup mereka, seringkali mempersembahkan kurban atas nama Kanak-kanak Yesus. Tetapi, bahkan tuduhan ini pun tampak konyol, sebab kaum Esseni tidak pernah mempersembahkan kurban, dan tak seorang pun beranggapan mereka bukan orang-orang baik karena tidak melakukannya. Para musuh Yesus masih terus menuduh-Nya sebagai seorang tukang sihir, dan Kayafas pun beberapa kali menegaskan bahwa keruwetan dalam pernyataan-pernyataan para saksi ini semata-mata disebabkan oleh ilmu sihir.

Beberapa orang menuduh-Nya makan anak domba Paskah sehari sebelum yang ditetapkan, karenanya bertentangan dengan hukum, dan bahwa tahun sebelumnya Ia mengadakan perubahan-perubahan dalam tata-cara upacara Paskah. Tetapi para saksi saling berselisih pendapat satu sama lain sampai ke tahap yang begitu rupa, hingga Kayafas dan para pengikutnya mendapati, dengan sangat mendongkol dan geram, bahwa tak satu tuduhan pun dapat sungguh dibuktikan. Nikodemus dan Yusuf dari Arimatea dipanggil dan diperintahkan untuk menjelaskan bagaimana mungkin mereka membiarkan-Nya makan anak domba Paskah pada hari yang tidak sesuai dengan yang ditetapkan, di salah satu ruangan milik mereka. Nikodemus dan Yusuf dari Arimatea berhasil membuktikan dari tulisan-tulisan kuno bahwa sejak masa silam, orang-orang Galilea diperkenankan makan Paskah sehari sebelumnya dari bangsa Yahudi lainnya. Mereka juga menambahkan bahwa setiap bagian upacara telah dilakukan sesuai ketentuan hukum, dan bahwa orang-orang dari Bait Allah hadir pada perjamuan itu. Hal ini cukup membingungkan para saksi. Nikodemus semakin menambah geram para musuh Yesus dengan menerangkan secara gamblang bagian dari dokumen-dokumen tersebut yang membuktikan hak orang-orang Galilea, dan menjelaskan mengapa hak istimewa ini diberikan. Maksudnya begini: segala kurban tidak akan mungkin terselesaikan hingga hari Sabat jika sedemikan banyak orang yang berkumpul bersama untuk merayakan Paskah, seluruhnya diwajibkan untuk menyelenggarakan upacara pada hari yang sama; dan meskipun orang-orang Galilea tidak senantiasa mempergunakan hak istimewa ini, namun adanya ketentuan tersebut dapat dibuktikan secara meyakinkan oleh Nikodemus. Murka kaum Farisi semakin meluap-luap oleh pernyataannya bahwa para anggota sidang telah dilecehkan begitu rupa oleh pertentangan-pertentangan yang menyolok dalam pernyataan para saksi, dan bahwa cara mereka menangani keseluruhan perkara ini, yang dilakukan dengan darurat serta tergesa-gesa, menunjukkan bahwa maksud jahat dan iri hati merupakan satu-satunya motivasi yang merasuki hati para pendakwa; mendorong mereka untuk mengajukan perkara tepat pada saat semua orang sedang sibuk mempersiapkan perayaan yang paling agung sepanjang tahun. Mereka memandang Nikodemus dengan amat gusar, tetapi tak mampu menjawab, melainkan melanjutkan menanyai para saksi dengan sikap terlebih lagi tergesa dan sembrono.

Akhirnya, tampil dua saksi yang mengatakan, “Orang ini mengatakan, `Aku akan merobohkan Bait Allah ini yang dibuat oleh tangan manusia, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikan yang lain, yang bukan buatan tangan manusia.'” Tetapi, bahkan kesaksian ini pun menimbulkan pertentangan pendapat di antara para saksi, sebab seorang mengatakan bahwa si Tertuduh hendak mendirikan suatu Bait Allah yang baru, dan bahwa Ia makan perjamuan Paskah di suatu tempat yang tak lazim, sebab Ia menghendaki robohnya Bait Allah yang lama. Tetapi, yang lain lagi mengatakan, “Bukan begitu, rumah di mana Ia makan perjamuan Paskah dibangun oleh tangan-tangan manusia, karenanya pastilah bukan itu yang Ia maksudkan.”

Geram dan murka Kayafas tak terlukiskan, sebab perlakuan keji yang diderita Yesus, kesabaran ilahi-Nya yang sungguh mengagumkan, dan saling pertentangan di antara para saksi, sudah mulai membangkitkan kesan mendalam pada banyak orang yang hadir. Beberapa sorak cemooh terhadap sidang terdengar, dan hati sebagian orang telah begitu tersentuh hingga mereka tak mampu lagi mengabaikan suara hati nurani mereka. Sepuluh orang prajurit meninggalkan pengadilan dengan dalih sakit, namun sesungguhnya mereka dikuasai oleh perasaan mereka. Ketika berjalan melewati tempat di mana Petrus dan Yohanes berdiri, mereka berkata, “Ketenangan Yesus dari Nazaret, di tengah perlakuan yang begitu keji, sungguh di luar batas manusiawi; mampu mencairkan hati baja sekali pun. Yang mengherankan adalah bumi tidak terbuka dan menelan orang-orang lalim seperti para pendakwa-Nya itu. Katakanlah, kemanakah kami harus pergi?” Kedua rasul tidak mempercayai kata-kata para prajurit itu dan beranggapan bahwa mereka sekedar mencari cara untuk menyingkapkan identitas mereka. Mungkin juga mereka khawatir kalau-kalau dikenali oleh mereka yang ada di sekitar sana dan dilaporkan sebagai murid Yesus. Jadi, mereka hanya menjawab dengan nada sedih, “Jika kebenaran memanggilmu, ikutilah, maka segala sesuatu akan datang dengan sendirinya.” Segera para prajurit itu keluar pengadilan dan meninggalkan Yerusalem tak lama sesudahnya. Mereka bertemu dengan orang-orang di pinggiran kota, yang mengarahkan mereka ke gua-gua yang terhampar di selatan Yerusalem, di seberang Bukit Sion, di mana banyak dari para rasul menyembunyikan diri. Para rasul pada mulanya sangat terkejut melihat orang-orang asing memasuki tempat persembunyian mereka. Tetapi, para prajurit itu segera melenyapkan segala ketakutan mereka dan menceritakan kepada para rasul mengenai sengsara Yesus.

Murka Kayafas, yang telah membuatnya frustrasi, mulai meledak oleh pernyataan-pernyataan kedua saksi terakhir yang saling bertentangan itu. Ia bangkit dari kursinya, menghampiri Yesus dan berkata, “Tidakkah Engkau memberi jawab atas tuduhan-tuduhan saksi-saksi ini terhadap Engkau?”

Yesus tidak mengangkat muka-Nya ataupun memandang pada imam besar. Hal ini membuat Kayafas naik pitam hingga puncaknya. Para prajurit pembantu menangkap isyarat ini. Mereka menjambak rambut Tuhan kita, menarik kepala-Nya ke belakang, lalu mendaratkan pukulan-pukulan di bawah dagu-Nya. Tetapi, tetap saja Yesus menatap ke lantai. Kayafas mengedangkan kedua tangannya dan berseru penuh amarah, “Demi Allah yang hidup, katakanlah kepada kami, apakah Engkau Mesias, Anak Allah, atau tidak.”  

Terjadilah suatu jeda yang hening dan tegang beberapa saat lamanya. Lalu, Yesus dalam suara yang agung dan ilahi menjawab, “Engkau telah mengatakannya. Akan tetapi, Aku berkata kepadamu, mulai sekarang kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di atas awan-awan di langit.” Sementara Yesus mengucapkan kata-kata ini, aku melihat suatu sinar terang menyelubungi-Nya. Surga terbuka di atas kepala-Nya. Aku melihat Bapa yang Kekal, tetapi tak ada kata-kata manusia yang dapat menggambarkan pemandangan gerak batin yang kala itu menguasaiku dalam penyerahan diri total kepada-Nya. Aku juga melihat malaikat-malaikat dan doa orang-orang benar membubung naik ke hadapan tahta Allah.

Pada saat yang sama, aku merasa jurang neraka menganga lebar bagaikan sebuah meteor yang bernyala-nyala di kaki Kayafas. Jurang itu penuh dengan setan-setan mengerikan, hanya suatu kabut tipis saja yang tampak memisahkan Kayafas dari kegelapan neraka. Aku dapat melihat angkara murka iblis yang menguasai hatinya, dan seluruh kediamannya tampak bagiku bagaikan neraka. Pada saat Tuhan kita mengucapkan kata-kata khidmad, “Akulah Kristus, Putra Allah yang hidup,” tampak neraka bergoncang hebat dari satu sisi ke sisi lainnya, lalu, seolah meledak dan membanjiri setiap orang dalam rumah Kayafas dengan perasaan benci yang berlipat terhadap Kristus. Hal-hal seperti ini senantiasa diperlihatkan kepadaku dalam rupa obyek jasmaniah, yang menjadikannya lebih mudah dimengerti dan menanamkannya secara lebih jelas dan kuat dalam benak. Sebab, kita sendiri pun adalah makhluk-makhluk jasmaniah, fakta-fakta lebih mudah dijelaskan kepada kita jika dinyatakan melalui sarana ini. Keputusasaan dan angkara murka yang diakibatkan oleh kata-kata ini terhadap neraka, digambarkan kepadaku dalam rupa ribuan sosok menyeramkan di berbagai penjuru. Aku ingat melihat, di antara hal-hal mengerikan lainnya, sejumlah sosok hitam kecil, bagaikan anjing dengan cakar-cakarnya, yang berjalan dengan kaki-kaki belakang mereka. Aku tahu pada waktu itu kejahatan apa yang dinyatakan oleh penglihatan ini, tetapi aku tak dapat mengingatnya lagi sekarang. Aku melihat sosok-sosok menjijikkan ini memasuki tubuh sebagian besar mereka yang hadir di sana, atau bertengger di atas kepala atau pundak mereka. Juga, pada waktu itu aku melihat iblis-iblis mengerikan muncul dari makam-makam di seberang Sion. Aku percaya mereka adalah roh-roh jahat. Aku melihat di sekitar Bait Allah banyak penglihatan-penglihatan lain, yang menyerupai para tahanan yang dibelenggu dengan rantai-rantai. Aku tidak tahu apakah mereka adalah iblis, atau jiwa-jiwa yang dikutuk untuk tinggal di bagian bumi tertentu, dan lalu pergi ke limbo, yang oleh hukuman mati yang dijatuhkan atas Tuhan kita, telah terbuka bagi mereka.

Sungguh sulit menjelaskan fakta-fakta ini, khawatir kalau-kalau menggoncang iman mereka yang tidak memiliki pengertian akan hal-hal demikian. Tetapi, orang-orang yang melihat merasakannya dan hal-hal ini seringkali mengakibatkan bulu kuduk merinding. Aku pikir Yohanes melihat sebagian dari penglihatan-penglihatan ini, sebab aku mendengarnya berbicara tentang hal ini sesudahnya. Semua orang, yang hatinya tidak rusak sama sekali, merasakan kengerian dahsyat atas peristiwa-peristiwa ini. Tetapi, mereka yang keras hati, tak merasakan apa-apa, selain dari meningkatnya kebencian dan murka terhadap Tuhan kita.

Kayafas kemudian bangkit berdiri dan, didorong oleh setan, menjumput ujung mantolnya, lalu mengoyakkannya dengan pisau, serta merobekkannya dari ujung ke ujung, seraya berseru dengan suara nyaring, “Ia menghujat Allah. Untuk apa kita perlu saksi lagi? Sekarang telah kamu dengar hujat-Nya. Bagaimana pendapat kamu?” Semua yang hadir di sana bangkit berdiri dan berseru dengan kejahatan yang mencengangkan, “Ia harus dihukum mati!”

Sepanjang peristiwa ngeri ini, para iblis berada dalam puncak kegembiraan. Tampaknya mereka sepenuhnya memegang kendali atas, bukan hanya para musuh Yesus, tetapi juga para pengikut dan pendukungnya yang pengecut. Tampak padaku, kuasa kegelapan memaklumkan kemenangannya atas terang. Sedikit di antara yang hadir, yang dalam hatinya masih tersisa seberkas cahaya samar, dihinggapi ketakutan luar biasa hingga mereka segera beranjak pergi dengan menyelubungi kepala mereka. Saksi-saksi dari kalangan yang lebih tinggi tak sekeras yang lain, hati nurani mereka terkoyak oleh sesal mendalam. Mengikuti jejak orang-orang terdahulu, mereka meninggalkan pengadilan sesegera mungkin. Sisanya berkerumun sekeliling perapian di serambi, makan dan minum setelah menerima upah penuh atas apa yang telah mereka lakukan. Imam besar kemudian berkata kepada para prajurit pembantu, “Aku serahkan raja ini ke dalam kuasa kalian. Berikan kepada si penghujat ini ganjaran yang setimpal bagi-Nya.” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, ia mengundurkan diri bersama para anggota sidang ke dalam ruangan bundar di belakang ruangan pengadilan, yang tak terlihat dari serambi.

Di tengah dukacita pahit yang meliputi hati Yohanes, pikirannya melayang kepada Bunda Yesus. Ia khawatir kalau-kalau berita ngeri hukuman mati atas diri Putranya disampaikan kepadanya dengan tiba-tiba, atau bahkan mungkin para musuh menyampaikannya dengan cara yang keji tanpa perasaan. Sebab itu, ia menatap Yesus dan berkata dengan suara lirih, “Tuhan, Engkau tahu mengapa aku meninggalkan-Mu.” Pergilah ia bergegas mencari Santa Perawan, sebab ia diutus oleh Yesus Sendiri. Petrus dikuasai oleh perasaan cemas dan duka, yang menyatu dalam tubuhnya yang penat letih, membuatnya menggigil. Sebab itu, sementara dinginnya fajar mulai merayap, ia pergi ke perapian di mana banyak orang berdiang menghangatkan diri. Sedapat mungkin ia menyembunyikan kesedihan hatinya dari hadapan mereka, sebab ia tak dapat memutuskan untuk pulang dan meninggalkan Guru-nya terkasih seorang diri.

Penghinaan yang Diderita Yesus dalam Pengadilan Kayafas

sumber : “The Dolorous Passion of Our Lord Jesus Christ from the Meditations of Anne Catherine Emmerich”

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”