|
Hai pendamping, apakah kamu patah semangat?
Apakah kamu pernah merasa sendirian dalam usahamu untuk mendampingi dan mengajar anak-anak di gereja atau di lingkunganmu? Malahan kadang-kadang kamu merasa seakan-akan hanya kamulah satu-satunya orang yang peduli akan hak, minat dan kebutuhan anak-anak di parokimu. Apa yang akan kamu lakukan jika semua pelayananmu tampaknya sia-sia dan tidak membuahkan hasil? Berikut ini ada beberapa saran untukmu:
1. SADARI BAHWA KAMU TIDAK SENDIRIAN. Ada beribu-ribu pendamping sepertimu di seluruh dunia yang bekerja keras demi pewartaan kepada anak-anak, dan sering kali mereka juga mengalami hambatan serta rintangan. Ambil Injil-mu dan bacalah Mazmur 86, maka kamu akan memperoleh semangat baru.
2. PUSATKAN DIRI PADA PANGGILANMU. Kamu melayani Tuhan, bukan manusia. 1Tesalonika 2:4 mengatakan, “Sebaliknya, karena Allah telah menganggap kami layak untuk mempercayakan Injil kepada kami, karena itulah kami berbicara, bukan untuk menyukakan manusia, melainkan untuk menyukakan Allah yang menguji hati kita.” Sementara itu sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang! (Roma 12:18). Tuhanlah sesungguhnya yang kamu layani dan kamu sukakan hati-Nya. Memang tidak mungkin kamu menyukakan hati semua orang, tetapi jika kamu menyukakan Allah, maka kamu sudah berhasil. (Matius 25:21)
3. INGATLAH BAHWA MAHKOTAMU TELAH DISEDIAKAN. Yakobus 1:12 mengatakan, “Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia.” Tuhan melihat bagaimana kita memperlakukan anak-anak serta bagaimana kita mewartakan-Nya kepada mereka. Tidak ada satu pun yang terlewatkan oleh-Nya dan tidak memperoleh ganjarannya. Jadi benarlah kenyataan ini, yaitu bahwa Yesus mengatakan “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa memberi kamu minum secangkir air oleh karena kamu adalah pengikut Kristus, ia tidak akan kehilangan upahnya." (Markus 9:41)
4. PERBAHARUILAH HUBUNGANMU. Ayah saya pernah mengatakan, “Nak, ingatlah ini: 90% masalah pelayanan bukanlah masalah seperti yang dinyatakan, tetapi masalah sakit hati.” Sangat jarang (jika memang ada!) orang datang kepadamu dan mengatakan, “Kamu telah menyakiti hati saya.” Sebaliknya mereka akan menemukan sesuatu yang kemudian dapat menjadi masalah. Banyak waktu dan tenaga dicurahkan untuk menyelesaikan masalah yang sebenarnya bukan masalah yang sesungguhnya, dan oleh karena itulah maka masalah tidak pernah terselesaikan. Belajar mendengarkan dan belajar meminta maaf akan menyelesaikan lebih banyak masalah daripada mencoba mendiskusikan 'masalah' tersebut. Carilah jalan untuk memperbaiki hubunganmu. Bersedialah mengesampingkan masalah-masalah dan lebih memusatkan diri pada hubungan antar pribadi. Kadang kala, kemudian masalah dapat terselesaikan dengan sendirinya, dan jika tidak, kamu akan dapat menyelesaikannya dengan lebih mudah begitu hubungan antar pribadimu sudah terbina. Jadi baik masalah terselesaikan ataupun tidak, kamu tetap menang.
5. MUNDUR DAN EVALUASI DIRI. Kita seringkali menanggapi kritik sebagai suatu serangan pribadi dan cenderung untuk membela diri. Kadang kala cara terbaik untuk mengatasi kritik adalah dengan mundur dan mengevaluasi situasi. Carilah hikmahnya. Meskipun 'musuhmu' itu 95% salah, masih ada 5% di mana kamu dapat mengambil hikmahnya! (biasanya lebih dari itu). Mungkin kamu tidak berada di tempat di mana kamu dapat melakukan pewartaan secara efektif. Berdoalah kepada Tuhan untuk meneguhkan panggilanmu di tempat itu, dan jika Ia tidak membimbingmu ke arah perubahan, bertekadlah untuk mencari jalan bagaimana kamu dapat melakukannya dengan lebih baik dan teruslah maju.
Suatu ketika saya mendapat kesempatan untuk berbincang-bincang dengan seorang tokoh idola saya: Dr Joe Stowell. Kepadanya saya bertanya, “Dr. Stowell, kelak anak-anak saya akan bertanya, 'Jadi, apa yang telah disampaikan Dr. Stowell?' Bagaimana saya harus menjawab mereka?” Ia mengambil Kitab Suci saya dan menulis di halaman depannya, "BE GOD'S MAN, IN GOD'S PLACE". Kemudian ia bertanya apakah saya dapat menjawab kedua pertanyaan tersebut dengan ”YA!” Jika jawabannya bukan 'ya', yah, saya tahu apa yang harus saya lakukan.
Jadi selanjutnya, pergumulan saya setiap hari adalah menjadi 'God's Man, in God's Place'. Dan nasehat saya kepadamu adalah sama 'Be God's Man, in God's Place' dan hal-hal lain bukan lagi merupakan masalah.
Sumber: Karl D. Bastian, Founder of Kidology Inc., www.kidology.org
|