St Mariam dari Yesus Tersalib - 2
St Mariam Baouardy (1846-1878)
si Arab Kecil, si Bunga Lily dari Palestina


 PENAMPAKAN ST YOSEF
 STIGMATA
 EKSTASI
 LEVITASI
 DEVOSINYA KEPADA ROH KUDUS
 WAFATNYA
 BEBERAPA PERKATAAN ST MARIAM BAOUARDY

   PENAMPAKAN ST YOSEF

Di Marseille, suatu pagi ketika sedang menuju Notre Dame de la Garde untuk merayakan Misa, Mariam merasa diikuti oleh seorang lelaki yang menggandeng seorang kanak-kanak. Hal ini terjadi beberapa kali. Merasa terganggu, Mariam menghampiri orang asing itu dan memintanya untuk berhenti mengikutinya. Sungguh mengherankan, orang asing itu menjawab dengan seulas senyum menawan dan berkata: "Aku tahu bahwa kau ingin masuk biara dan aku akan mengikutimu hingga kau ada dalam biara."

Siapakah orang asing ini? Gadis muda itu tak ragu bahwa tiada lain ia adalah St Yosef. Pemudi Palestina ini pertama-tama pergi ke Puteri-puteri Kasih dan mohon diijinkan menggabungkan diri. Sebab campur tangan Nyonya Naggiar, yang tak mau kehilangan tukang masak, mereka menolaknya dengan dalih bahwa ia adalah seorang pelayan. Mariam kemudian pergi kepada Suster-suster Claris, tetapi karena kesehatannya, yang turun drastis akibat puasa hingga kepadanya diterimakan Sakramen Pengurapan Orang Sakit, ia tak dapat masuk biara. Namun sekali lagi, dengan cepat, hingga mengejutkan semua orang, kesehatannya berangsur-angur pulih dan ia pun sehat kembali.

Mariam mencoba lagi di tempat Suster-suster St Yosef dari Penampakan yang didirikan oleh Santa Emilia de Vialar. Rumah induk dan novisiat biara bertempat di "Capelette" di pinggiran kota Marseille. Si gadis Palestina tidak bisa membaca ataupun menulis, dan ia hanya bisa berbicara bahasa Arab.  Mariam diterima, sebab hanya ada sedikit orang Palestina di novisiat sementara Kongregasi memiliki beberapa komunitas di Timur, khususnya di Tanah Suci. Di biara ia biasa disapa "Mariam si Arab", atau "si Arab kecil" [= La Petite Arabe].  

Mei 1865 hingga Juni 1867, Mariam menjadi seorang postulan di Suster-suster St Yosef dari Penampakan di Marseille. Para rekan suster selalu merasa geli oleh bahasa Perancis Mariam yang patah-patah, tetapi mereka lebih terkesan oleh keutamaan dan kesalehannya yang luar biasa. Mariam beruntung, dua perempuan dengan kebajikan keutamaan memimpin Capelette pada waktu itu, Superior Jenderal, Moeder Emily Julien, dan Pembimbing Novis, Moeder Honorine Piques. Mereka adalah pembimbing rohani yang luar biasa bagi Mariam, sebaliknya mereka terperanjat mendapati fenomena aneh yang segera terjadi dalam diri si Arab kecil. Ekstasi seperti di Gereja St Nicholas lebih sering terjadi.  


   STIGMATA

Pada bulan Januari 1866 - Mariam berusia duapuluh tahun - Moeder Honorine mendapati Mariam di asrama, prostratio, dengan wajahnya mencium lantai dan tangan kirinya berlumuran darah. Dari Rabu sore hingga Jumat pagi setiap minggu, pada ekstasi yang dialaminya ditambahkan fenomena lain yang luar biasa, yakni stigmata.

Pekan Suci sangat mengerikan. Setiap bagian tubuhnya mencucurkan darah: kepala, lambung, kedua tangan dan kaki. Ia memperlihatkan dan menghidupkan kembali peristiwa sengsara. Ia menjadi pasangan tersalib dari Tuhan yang tersalib. Ia dapat diidentifikasikan dengan Mempelai-nya hingga ke rincian yang sangat detail dari Jumat Agung! "Ketika berada dalam keadaan ini, ia dapat disebut sebagai 'ecce homo,'" tegas Moeder Honorine.     

Pada bulan Agustus 1866 di Marseille, ia sedang berdoa di kapel suatu sore ketika di tabernakel ia melihat Yesus, yang menampakkan diri kepadanya dengan kelima luka-luka-Nya dan mahkota duri. Kelihatannya Mariam melihat bara murka di tangan-tangan-Nya. Ia mendengar Yesus berkata kepada BundaNya yang prostratio di kaki-Nya: "Oh, betapa BapaKu telah dihinakan!" Postulan ini segera melompat ke arah Yesus; Mariam menempatkan tangannya pada luka Hati-Nya, sembari berseru: "Allah-ku, berikanlah padaku, aku mohon, segala penderitaan ini, tetapi berbelas-kasihanlah terhadap orang-orang berdosa." Keluar dari ekstasi, Mariam melihat tangannya berlumuran darah, dan ia mengalami sakit hebat di lambung kirinya: yang di kemudian hari akan mengucurkan darah setiap hari Jumat.

Moeder Honorine melihat bahwa ia berhadapan dengan seorang luar biasa yang sepenuhnya dikuasai Roh Kudus, meminta Mariam untuk menceritakan riwayat hidupnya. Satu salinan kelak dikirimkan ke Karmel di Pau dengan catatan ini, "Aku mengirimkan kepadamu salinan dari apa yang aku sendiri kumpulkan dari yang ia ceritakan kepadaku, bukannya tanpa banyak penolakan, melainkan semata-mata demi ketaatan. Ia memintaku dengan sangat untuk menyimpannya sebagai rahasia yang telah aku simpan hingga hari ini… Aku menghapus semua yang tidak sepenuhnya aku mengerti, sebab kesulitan yang dialami puteri terkasih ini dlam mengungkapkan dirinya dalam bahasa Perancis."

Moeder Honorine jatuh sakit dan digantikan oleh Moeder Veronica. Ia seorang Inggris dan dari Anglikan masuk ke dalam pelukan Gereja Katolik. Ia menjadi 'soul mate' bagi Mariam di jalan kekudusan; mereka berdua bagai dua elang kembar yang membubung tinggi ke langit. Atas kehendak Moeder Veronica juga stigmata lenyap di Marseille, dan seturut nubuat Mariam, stigmata tidak akan muncul kembali sampai Prapaskah berikutnya di Pau.

Mariam menjadi obyek pertentangan. Sementara sebagian besar sesama saudara suka padanya, ada juga sekelompok suster yang menentangnya. Sehubungan dengan fenomena tersebut, adakah ia otentik? Hingga akhirnya, tibalah hari penerimaan masuk novisiat. Dari tujuh biarawaati yang berhak memberikan suara, dua orang abstain, dua setuju dan tiga menolak. Mariam tidak diterima!

Jelas itu merupakan pukulan berat bagi Mariam. Sementara itu Moeder Veronica, setelah tujuhbelas tahun menggabungkan diri dengan Suster-suster St Yosef, menerima otorisasi dari Roma untuk menjadi seorang biarawati Karmelit dan ditempatkan di Karmel di Pau. Moeder Veronica memperkenalkan Mariam kepada Moeder Priorin yang memberikan tanggapan segera dan positif.


   EKSTASI

Pada tanggal 15 Juni 1867 Veronica dan Mariam diterima dengan tangan terbuka di Karmel oleh Moeder Priorin Elias. Mariam sebelumnya tidak tahu-menahu mengenai Karmel ataupun mengenai St Theresia. Akan tetapi pada hari itu ia memahami perkataan misterius perawat ajaibnya di Alexandria, "Engkau akan menjadi anak St Yosef sebelum menjadi puteri St. Teresa." Dalam Biara Karmel, Sr Mariam adalah "suster berkerudung putih" yaitu biarawati yang melakukan pekerjaan-pekerjaan rendah dan tidak terikat pada Offisi dalam paduan suara.

Pada bulan Agustus 1870 hingga November 1872, Mariam ditempatkan di Mangalore, India, untuk membantu pembangunan biara. Di biara di Mangalore inilah Suster Maria dari Yesus Tersalib mengucapkan kaulnya pada tanggal 21 November 1871 di altar kapel Rubiah Karmel.

Di biara ini pula ekstasi semakin sering dialaminya, nyaris setiap hari; bahkan hingga lima kali dalam sehari. Ekstasi kadang kala terjadi sekonyong-konyong, kadang kala perlahan-lahan. Mariam mengatakan, "Ada saat-saat," katanya, "ketika aku sama sekali tak dapat melakukan apa-apa: tak peduli apapun yang aku lakukan untuk mencegahnya; dan di saat lain aku dapat mengalihkan sedikit perhatian agar tidak tenggelam di dalamnya." Dalam ketidaktahuannya mengenai hal-hal mistik, ia tidak menyadari keistimewaan yang boleh ia nikmati, dan bahkan menyebut ekstasi sebagai "tertidur". Dan bagaimana ia berjuang melawan "tertidur" ini! Ia memohon kepada Pater Manaudas, pembimbing rohani, dan kepada Uskup Lacroix. Ia berjalan keliling, menggoyang-goyangkan tubuh, lari membasuh muka, ia bekerja dengan lebih giat. Bahkan ia menusuk kulitnya dengan peniti, dan di kamar makan ia memasukkan makanan panas-panas ke dalam mulutnya. Tak berhasil.

Selama ekstasi, tubuhnya terkadang tetap lentur, tetapi kerap kali menjadi kaku, tetap dalam posisi yang sama seperti pada awal ekstasi. Selama itu, tidak ada dan tidak seorang pun yang dapat membuatnya bergerak. Mustahil membuatnya duduk atau berbaring, atau mengambil suatu obyek yang dipegangnya, atau menurunkan lengannya yang terangkat. Hanya ketaatan semata yang bisa mengatasi keadaan ini. Ia juga sama sekali mati rasa terhadap rangsangan lahiriah. Suatu ketika lututnya terluka karena paku, yang mengakibatkan rasa sakit luar biasa dan ia hanya bisa berjalan dengan terpincang-pincang. Akan tetapi, sekonyong-konyong ia tenggelam dalam ekstasi dan tinggal berlutut selama dua jam!

Ketika terbangun dari ektasi, Mariam tidak ingat akan apa yang terjadi. Namun, dengan satu pengecualian: ia akan ingat apabila otoritas memintanya untuk menceritakan apa yang ia lihat dan dengar. "Aku ingat akan hal-hal ini dan mengatakan kepada siapa harus aku katakan."

Pada tanggal 23 September 1872 Mariam meninggalkan Mangalore dan tiba kembali di Karmel di Pau pada tanggal 5 November 1872.  


   LEVITASI

Kita tahu dari kehidupan para mistik kudus bahwa sementara dalam ekstasi, seorang dapat terangkat sedikit dari atas tanah melalui rahmat adikodrati yang misterius. Akan tetapi, Suster Maria dari Yesus Tersalib merupakan satu dari antara yang sangat sedikit, di antaranya Yosef dari Cupertino, yang sungguh-sungguh terbang.

Pada tanggal 22 Juni 1873, melihat ketidakhadiran Mariam saat makan malam, pembimbing novis mencarinya dengan tanpa hasil di biara dan di kebun buah-buahan. Ketika itu terdengarlah suatu madah: "Kasih! Kasih!" Ia mendongak ke atas dan mendapati Mariam melayang-layang, tanpa penyangga apapun, di puncak sebuah pohon limau yang sangat besar di kebun Karmel di Pau. Sesudah berdoa, Moeder berkata kepada si Arab kecil: "Suster Maria dari Yesus Tersalib, jika Yesus menghendakinya, turunlah demi ketaatan tanpa jatuh ataupun melukai dirimu sendiri." Pada kata ketaatan, Mariam turun "dengan wajah bercahaya" dan penuh kerendahan hati yang sempurna, dengan berhenti pada beberapa cabang memadahkan Kasih.

Pada tanggal 19 Juli 1873, ketika perintah untuk turun disampaikan kepadanya, Mariam ragu-ragu sejenak. Ia mohon diijinkan tinggal lebih lama dengan sang Anak Domba. "Tidak," desak priorin, "demi ketaatan, turun!" Mariam taat, namun akibat dari keragu-raguan itu fatal. "Anak Domba pergi," desah sang Suster, "Ia membiarkanku turun sendiri." Akibat ragu dalam ketaatan, ia turun dengan susah payah dan mengalami empat hari kesedihan demi menyilihnya.     


   DEVOSINYA KEPADA ROH KUDUS

Devosi Mariam kepada Roh Kudus merupakan suatu yang tak lazim pada jamannya. Terinspirasi oleh doa khusus kepada Roh Kudus yang diterimanya saat ekstasi, Mariam yakin bahwa devosi kepada Roh Kudus, yang dikenal sebagai Parakletos, diperlukan Gereja semesta. Ia bahkan mengirimkan suatu petisi kepada Paus Pius IX memohonnya untuk menanamkan devosi yang lebih besar kepada Roh Kudus dalam Gereja. Tak seorang pun tahu bagaimana pendapat Paus pada saat itu, akan tetapi 20 tahun kemudian Paus Leo XIII menerbitkan ensiklik mengenai devosi kepada Parakletos. Mengenai devosi kepada Roh Kudus, Mariam menulis:

 "Dunia dan komunitas religius mencari yang baru dalam devosi, dan mereka melupakan devosi sejati kepada Parakletos. Itulah sebabnya mengapa ada kesesatan dan perpecahan, dan mengapa tidak ada damai ataupun terang. Mereka tidak memohon kepada Terang seperti seharusnya Ia dimohon, padahal Terang inilah yang memberi pengetahuan akan kebenaran. Ia diabaikan bahkan dalam seminari-seminari."

 "Setiap orang di dunia yang berseru kepada Roh Kudus dan berdevosi kepada-Nya tidak akan mati dalam kesesatan."


DOA ST. MARIAM BAOUARDY KEPADA ROH KUDUS

1.  
Roh Kudus, ilhami aku.
Kasih Allah, kuasailah aku.
Sepanjang jalan kebenaran, pimpinlah aku.
Maria Bunda-ku, perhatikanlah aku.
Bersama Yesus, berkatilah aku.
Dari segala kejahatan, dari segala ilusi,
dari segala mara bahaya, lindungilah aku.

2.
Sumber damai, Terang,
datang dan terangilah aku.
Aku lapar, datang dan kenyangkanlah aku.
Aku haus, datang dan legakanlah dahagaku.
Aku buta, datang dan berilah aku terang.
Aku miskin, datang dan perkayalah aku.


   WAFATNYA

Dalam penglihatan-penglihatan, Yesus berbicara kepada Mariam mengenai pembangunan biara Karmel di Betlehem dan di Nazaret. Meski ia bukan seorang priorin, para suster yang menghormati kekudusan dan kerendahan hati Mariam, mempercayai wahyu-wahyu yang disampaikan kepadanya dan mendukung proyek pembangunan. Demikanlah pada tanggal 20 Agustus 1875 Sr Mariam bersama sekelompok kecil biarawati, termasuk Moeder Veronica, berangkat dan tiba di Betlehem pada bulan September 1875. Tuhan membimbing Mariam dalam memilih lokasi dan desain bangunan.

Di Betlehem inilah Mariam mengalami stigmatisasi yang paling lama dan paling menyakitkan. Melihatnya, para saksi akan berpikir bahwa mereka sedang berada di Kalvari di hadapan peristiwa Penyaliban! Sr Mariam mengatakan, "Tahukah kalian? Lima kuntum mawar sedang mekar, cepat, cepat. Mereka memberikan bunga-bunga mawar kepada yang lain, dan duri-durinya kepadaku." Dengan seulas senyum ia menambahkan: "Dan tidak membiarkanku mencium harumnya sama sekali, tidak selain dari duri-duri! Oh, baiklah - aku pantas untuk itu! Agar Yesus menjadi puas, hanya itulah yang aku kehendaki. Aku menerima semua duri-duri pada tubuhku, tapi katakan kepada Tuan yang empunya kebun mawar agar menutup mawarnya." Sesudah bunga-bunga mawar merah di Marseille, Pau, Mangalore, dan Bethlehem, "kelima mawar" stigamata ditutup untuk selamanya pada tanggal 26 April 1876.  

Bulan Agustus 1878, tatkala membawakan air untuk para pekerja dalam pembangunan biara baru, Mariam terjatuh dari tangga dan mengalami patah tulang. Tangannya yang membengkak segera terjangkit gangren, dan infeksi menyebar hingga ke paru-paru dan ruang pernapasan. Ia tahu bahwa ajal sudah mendekat. Dalam penderitaannya, ia memperbaharui kaul sebagai kurban bagi Gereja dan bagi Perancis, negeri keduanya.

Pada tanggal 26 Agustus 1878 ia merasa seolah tercekik dan menghembuskan napas terakhirnya segera sesudah menggumam, 'Yesus-ku, kasihanilah." Saat itu dini hari pukul lima lewat sepuluh menit. Suster Mariam Baouardy wafat dalam usianya yang ketigapuluh tiga tahun dan duabelas tahun masa pengabdian dalam hidup religius.     

Hingga kini Mariam Baouardy dikenal sebagai "Al Qiddisa" (orang yang kudus) di Ibillin, Palestina. Ia dibeatifikasi pada tanggal 13 November 1983 oleh Paus Yohanes Paulus II dan dikanonisasi pada tanggal 17 Mei 2015 oleh Paus Fransiskus. Pestanya dirayakan pada tanggal 25 Agustus.


   BEBERAPA PERKATAAN ST MARIAM BAOUARDY

 "Semua berlalu di sini di dunia. Siapakah kita? Bukan apa-apa selain debu, ketiadaan, sementara Allah begitu agung, begitu indah, begitu patut dikasihi, namun Ia tidak dikasihi."

 "Seluruh dunia tidur, dan Allah begitu penuh kebajikan, begitu agung, begitu layak akan segala pujian, dan nyaris tak seorang pun memikirkan-Nya! Lihat, alam raya memuji-Nya, langit, bintang-bintang, pepohonan, rerumputan, semua memuji-Nya, dan manusia, yang mengenal anugerah-Nya, yang seharusnya memuji-Nya, tidur! Mari, marilah kita pergi dan membangunkan jagad raya! Marilah kita pergi dan memuliakan Allah. Semua orang tidur, seluruh dunia tidur, marilah kita pergi dan membangunkan mereka. Yesus tidak dikenal, Yesus tidak dikasihi. Ia, yang begitu penuh kebajikan, Ia yang telah melakukan begitu banyak bagi manusia!"

 "Aku dalam Allah, dan Allah dalam aku. Aku merasa bahwa segenap makhluk, pohon-pohon, bunga-bunga adalah milik Allah dan juga milikku. Aku tak lagi memiliki kehendak, kehendak adalah milik Allah. Dan semua yang milik Allah adalah milikku."

 "Hanya kasih yang dapat mengisi hati manusia. Orang benar puas dengan kasih dan sepetak tanah, tetapi orang fasik, dengan segala kesenangan, kehormatan, kekayaan (yang dapat diperolehnya), selalu lapar, selalu. Dia tidak pernah puas."

 "Perhatikanlah hal-hal kecil. Semuanya besar di hadapan Tuhan. Tuhan tidak menghendaki perampokan dalam pengorbanan. Persembahkan dan berikan kepada-Nya semua."

 "Di surga, jiwa-jiwa yang paling indah adalah mereka yang paling banyak berdosa dan bertobat. Mereka menggunakan penderitaan mereka seperti pupuk sekeliling pokok pohon."

 "Sangat bermurah-hatilah; apabila salah satu matamu melihat apa yang tidak benar, tutuplah dan lalu buka yang satunya! Ubahlah semuanya menjadi baik."

 "Jika engkau mengasihi sesama, dengan inilah engkau akan mengetahui apakah engkau mengasihi Yesus. Setiap kali engkau melihat sesama tanpa melihat Yesus, engkau jatuh terpuruk sangat rendah."

"Allah tersembunyi dalam buah seperti biji dalam apel. Belahlah apel dan kalian akan mendapati lima biji di tengahnya. Begitulah Allah tersembunyi dalam hati manusia. Ia tersembunyi di sana dengan misteri sengsara-Nya yang diwakili oleh kelima biji. Allah telah menderita dan manusia harus menderita, entah itu diingininya atau tidak. Apabila manusia menderita melalui kasih, dalam persekutuan dengan Allah, ia akan lebih ringan menderita dan beroleh ganjaran. Kelima biji yang ada dalam kedalaman hatinya akan tumbuh dan menghasilkan berlimpah buah. Tapi jika ia menolak pencoban, ia akan terlebih menderita, tanpa beroleh ganjaran.

(Sesudah menyambut Komuni Kudus) "Sekarang aku telah memiliki segalanya."


Sumber: 1. “Saint Mariam Baouardy The Little Arab and Lily of Palestine”; www.mysticsofthechurch.com; 2. berbagai sumber

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: yesaya.indocell.net” atas ijin Mystics of the Church.


Santa & Santo          previous  Halaman Sebelumnya     Halaman Selanjutnya  next      up  Halaman Utama