Tiga Salam Maria


Salah satu sarana keselamatan terbesar dan salah satu tanda paling pasti akan predestinasi [= dipilih dan ditentukan untuk menerima keselamatan oleh kehendak Allah], tak diragukan lagi, adalah devosi kepada Santa Perawan Maria Tersuci. Segenap Pujangga Gereja secara bulat mengatakan bersama St Alfonsus Liguori: "Seorang abdi Maria yang saleh tiada akan pernah binasa." Kunci utamanya adalah mempraktekkan dengan setia devosi ini hingga akhir hayat.

Adakah suatu praktek yang lebih mudah dan lebih fleksibel bagi semua orang selain dari pendarasan tiga Ave Maria setiap hari demi menghormati hak-hak istimewa yang dianugerahkan Tritunggal Mahakudus pada Santa Perawan?

Salah seorang pertama yang mendaraskan tiga Salam Maria dan menganjurkannya pada yang lain adalah St Antonius dari Padua (1195-1231) yang termasyhur. Tujuan utama praktek ini adalah demi menghormati Keperawanan Maria yang tanpa noda dan demi memelihara kemurnian pikiran, hati dan tubuh secara sempurna di tengah mara bahaya dunia. Banyak orang, seperti St Antonius, telah merasakan dampak manfaatnya.

Di kemudian hari, St Leonardus dari Porto Mauritio (1676-1751), seorang misionaris terkenal, biasa mendaraskan tiga Ave Maria di pagi dan petang hari demi menghormati Santa Perawan Maria Immaculata, untuk memperoleh rahmat menghindari segala dosa berat sepanjang siang maupun malam; di samping itu, dengan suatu cara istimewa ia menjanjikan keselamatan kekal kepada mereka semua yang terbukti terus-menerus dengan setia mempraktekkan devosi ini.

Seturut teladan dua santo besar Fransiskan ini, St Alfonsus Liguori (1696-1787) menerapkan praktek saleh ini dan memberikan dukungannya yang kuat serta penuh semangat. Ia menyampaikan nasehat bagaimana mempraktekkannya dan bahkan memberikannya sebagai penitensi kepada mereka yang tak mempraktek kebiasaan saleh ini. Pujangga kudus ini mendorong, khususnya para orangtua dan para bapa pengakuan, untuk mencermati dengan seksama apakah anak-anak setia mendaraskan tiga Salam Maria setiap hari, pagi dan petang, dan menganjurkannya kepada semua orang, "Kepada yang saleh dan kepada yang berdosa, kepada yang muda dan kepada yang tua."

St Alfonsus Liguori juga yang menyarankan agar di setiap akhir Salam Maria ditambahkan: "Demi Perkandunganmu yang tanpa dosa, ya Maria, jadikan tubuhku murni dan jiwaku suci."


 PESAN BUNDA MARIA

Praktek ini disingkapkan kepada St Mechtildis (1241-1298) dengan janji akan kematian yang baik jika ia setia melakukankannya setiap hari. Tertulis dalam wahyu kepada St Gertrude (1256-1301): "Sementara orang kudus ini memadahkan Salam Maria, pada ibadat pagi Kabar Sukacita, sekonyong-konyong ia melihat memancarlah dari Hati Bapa dan Hati Putra, dan Hati Roh Kudus, tiga nyala api cemerlang yang menembusi Hati Santa Perawan." Kemudian ia mendengar kata-kata berikut:

"Sesudah Kuasa Bapa, Kebijaksanaan Putra, dan Kelembutan yang rahim Roh Kudus, tiada suatupun yang mendekati Kuasa, Kebijaksanaan dan Kelembutan yang rahim Maria."   

Bunda Maria meminta pendarasan tiga Salam Maria setiap hari dan menyampaikan berikut kepada St Mechtildis:

"Salam Maria pertama demi menghormati Allah Bapa, yang kemahakuasaannya mengangkat jiwaku begitu tinggi melampaui segala makhluk lain hingga, sesudah Allah, aku memiliki kuasa terbesar di surga dan di bumi. Di akhir ajalmu, aku akan mempergunakan kuasa Allah Bapa itu untuk melindungimu dari segala kuasa jahat."

"Salam Maria kedua demi menghormati Allah Putra, yang menyampaikan kebijaksanaan-Nya yang melampaui segala pengertian kepadaku… Di akhir ajalmu, aku akan mengisi jiwamu dengan terang dari kebijaksanaan itu hingga segala kegelapan ketidaktahuan dan kesesatan akan dihalau.

"Salam Maria ketiga demi menghormati Allah Roh Kudus, yang memenuhi jiwaku dengan kemanisan kasih dan kelemah-lembutan dan kerahiman-Nya… Di akhir ajalmu, aku akan mengubah kepahitan maut menjadi kemanisan dan sukacita ilahi."  

Dalam suatu penampakan kepada St Gertrude, Bunda Maria menjanjikan, "Kepada jiwa yang dengan setia mendaraskan tiga Salam Maria, aku akan menampakkan diri di saat ajalnya dengan semarak keindahan yang begitu luar biasa hingga memenuhi jiwa dengan penghiburan surgawi."

PENYERAHAN DIRI KEPADA
SANTA PERAWAN MARIA DARI TRITUNGGAL MAHAKUDUS

Dengan segenap hati aku memujimu, Perawan Tersuci, melampaui segenap para malaikat dan para kudus di Firdaus, Putri Bapa yang Kekal. Aku persembahkan kepadamu jiwaku dengan segala kemampuannya.
Salam Maria…

Dengan segenap hati aku memujimu, Perawan Tersuci, melampaui segenap para malaikat dan para kudus di Firdaus, Bunda Putra Allah yang terkasih. Aku persembahkan kepadamu tubuhku dengan segala inderanya.
Salam Maria…

Dengan segenap hati aku memujimu, Perawan Tersuci, melampaui segenap para malaikat dan para kudus di Firdaus, Mempelai Roh Kudus yang terkasih. Aku persembahkan kepadamu hatiku dengan segala cinta kasihnya, dan aku mohon kepada-Mu untuk memperolehkan bagiku dari Tritunggal Mahakudus segala rahmat yang diperlukan bagi keselamatan.
Salam Maria…

Catatan: Daraskan pagi dan petang Penyerahan Diri dan Tiga Salam Maria demi menghormati tiga hak istimewa Maria, bersama dengan seruan ini di akhir setiap Salam Maria:

Demi Perkandunganmu yang suci dan tanpa dosa, ya Maria,
jadikan tubuhku murni dan jiwaku suci;
lindungilah aku pagi ini [petang ini] dari dosa berat.

Imprimatur: 7 Februari 1963
Kardinal Francis Spellman
Uskup Agung New York

Paus St Pius X memberikan Berkat Apostoliknya atas prakterk ini. Devosi ini dinaikkan ke tingkat Persaudaraan Agung [= Archconfraternity] oleh Paus Benediktus XV. Devosi ini dalam bentuknya yang sekarang oleh St Leonardus dari Porto Mauritio.

sumber : “Heaven Opened By The Practice Of The  Three Hail Marys”; www.catholictradition.org
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: yesaya.indocell.net atas ijin Pauly Fongemie ~ Catholic Tradition.”