|
YESAYA
(YESus SAyang saYA)
Februari-Maret 2008
"Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu." ~ 1 Timotius 4:12
YESUS DALAM SAKRAT MAUT DI TAMAN ZAITUN
dari: Meditasi Beata Anna Katharina Emmerick
 Di Bukit Zaitun, Penebus kita dengan rela hati mengalami serta mengatasi penolakan kuat dari kodrat manusiawi-Nya untuk menderita dan mati. Sang penggoda diperkenankan untuk melakukan kepada-Nya apa yang ia lakukan kepada semua orang yang rindu mengurbankan diri mereka demi tujuan yang mulia. Dalam bagian pertama sengsara, setan memperlihatkan kepada Tuhan kita betapa besar hutang dosa yang harus Ia bayar. Setan bahkan cukup lancang dan licik untuk mencari-cari kesalahan dalam karya-karya Sang Juruselamat Sendiri. Dalam sengsara kedua, Yesus melihat, hingga keseluruhan kedahsyatan sengsara dan segala kepahitannya, sengsara penebusan yang dituntut guna memuaskan Keadilan Ilahi. Hal ini diperlihatkan kepada-Nya oleh para malaikat; sebab bukan kehendak setan untuk menunjukkan bahwa silih mungkin dilakukan, dan bapa kebohongan dan keputusasaan tak akan pernah dapat memperlihatkan karya-karya belas-kasihan Allah kepada manusia. Yesus dengan gemilang melawan segala serangan ini dengan penyerahan DiriNya secara penuh dan total pada kehendak Bapa Surgawi. Tetapi, serangkaian penglihatan baru yang menakutkan diperlihatkan kepada-Nya. Muncul dalam jiwa Tuhan kita perasaan ragu serta gelisah seperti yang biasa dialami seorang yang hendak melakukan pengorbanan besar. Ia bertanya kepada DiriNya Sendiri: “Dan manfaat apakah yang diperoleh dari kurban ini?” Lalu, sebuah gambaran tentang masa depan yang paling mengerikan diperlihatkan kepada-Nya sehingga melingkupi hati-Nya yang lemah-lembut dengan dukacita yang hebat.
Pada waktu Tuhan menciptakan Adam yang pertama, Ia membuatnya tidur nyenyak, membuka lambungnya, mengambil satu tulang rusuknya, dan darinya dijadikan-Nya Hawa, isterinya, ibu semua yang hidup. Lalu, Ia membawa perempuan itu kepada Adam, yang berseru: “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.” Itulah perkawinan yang tentangnya ada tertulis: “Inilah sakramen yang agung. Aku berbicara dalam nama Kristus dan Gereja.” Yesus Kristus, Adam yang kedua, juga dengan suka hati membiarkan DiriNya tidur - tidur dalam alam maut di salib. Ia juga dengan rela hati membiarkan lambung-Nya dibuka, agar Hawa yang kedua, Mempelai-Nya yang Perawan, Gereja, ibu semua yang hidup, dapat dibentuk darinya. Adalah kehendak-Nya untuk memberikan kepada Mempelai-Nya: darah penebusan, air pemurnian, dan roh-Nya - ada tiga yang memberi kesaksian di bumi - dan untuk menganugerahkan juga kepada Gereja-Nya sakramen-sakramen yang kudus, agar Gereja-Nya murni, kudus dan tak bercela. Ia akan menjadi Kepala Gereja-Nya, dan kita akan menjadi anggotanya, di bawah ketaatan pada Kepala. Gereja adalah tulang dari tulang-Nya dan daging dari daging-Nya. Dengan mengambil rupa manusia, Ia rela menanggung sengsara dan wafat bagi kita. Ia juga meninggalkan Bapa-Nya yang Kekal, agar dapat bersatu dengan mempelai-Nya, yaitu Gereja, dan Ia menjadi satu daging dengannya, dengan memberi Gereja-Nya makanan Sakramen Mahakudus dari Altar, di mana Ia secara terus-menerus mempersatukan DiriNya dengan kita. Ia dengan suka hati tinggal di dunia bersama Gereja-Nya, hingga kita semuanya dipersatukan oleh-Nya dalam kawanan-Nya. Ia telah bersabda: “alam maut tidak akan menguasainya.” Demi kasih-Nya yang tak terhingga kepada orang-orang berdosa, Kristus telah menjadi manusia dan menjadi saudara dari orang-orang berdosa ini, agar Ia dapat menanggungkan ke atas DiriNya Sendiri hukuman atas segala kejahatan mereka. Yesus telah merenungkan dengan dukacita yang dalam, besarnya hutang ini dan sengsara yang tak terucapkan dengan mana hutang itu dapat dihapuskan. Namun demikian, Ia sepenuhnya bersukacita dalam menyerahkan DiriNya pada kehendak Bapa Surgawi sebagai kurban pepulih. Tetapi sekarang, Ia melihat segala penderitaan, pertikaian dan luka-luka dari Mempelai Surgawi-Nya di masa yang akan datang. Singkat kata, Ia melihat segala kedurhakaan manusia.
.... Andai aku berbicara sepanjang tahun pun, tak kan pernah dapat aku memerinci segala penghinaan yang dilakukan terhadap Yesus dalam Sakramen Mahakudus, seperti yang dinyatakan kepadaku dengan cara ini. Aku melihat para pemimpin mereka menyerbu Yesus dalam kelompok-kelompok, menyerang-Nya dengan berbagai macam senjata, sesuai ragam penghinaan mereka. Aku melihat orang-orang Kristen yang tidak hormat dari segala abad, para imam yang sembrono dan yang melakukan dosa-dosa sakrilegi, himpunan mereka yang menyambut komuni dengan suam-suam kuku dan tidak layak, para prajurit jahat yang mencemarkan bejana-bejana kudus, dan hamba-hamba setan yang mempergunakan Ekaristi Kudus dalam misteri-misteri mengerikan dari pemujaan setan. Di antara kelompok-kelompok ini, aku melihat sejumlah besar teolog, yang telah terjerat ke dalam ajaran sesat karena dosa-dosa mereka. Mereka menyerang Yesus dalam Sakramen Mahakudus Gereja-Nya, dan dengan bujuk rayu dan janji-janji, mereka merenggut dari Hati-Nya banyak jiwa-jiwa yang untuknya Ia telah menumpahkan darah-Nya. Ah! sungguh suatu penglihatan yang mengerikan. Aku melihat Gereja sebagai Tubuh Kristus; dan segala gerombolan manusia ini, yang memisahkan diri dari Gereja, mengkoyak-koyak serta mencabik-cabik seluruh daging-Nya yang hidup. Sungguh malang! Ia memandang mereka dengan tatapan yang amat memelas, dan Ia berduka sebab dengan demikian mereka mengakibatkan kebinasaan kekal bagi dirinya sendiri. Ia telah menyerahkan DiriNya Sendiri yang Ilahi kepada kita sebagai Makanan dalam Sakraman Mahakudus, guna mempersatukan kita - umat manusia yang terpecah-belah dan terpisah-pisah hingga tak terhingga satu dengan yang lainnya - sebagai satu tubuh - yaitu Gereja, Mempelai-Nya. Dan sekarang Ia melihat DiriNya Sendiri terkoyak dan tercabik dalam tubuh-Nya; sebab karya kasih-Nya yang terutama, Komuni Kudus, di mana manusia seharusnya dipersatukan menjadi satu, sekarang telah menjadi subyek perpecahan akibat kekejian para guru palsu. Aku melihat sekalian bangsa, dengan demikian direnggut dari pelukan-Nya dan dicabut keikutsertaannya dalam harta karun rahmat yang ditinggalkan-Nya bagi Gereja. Akhirnya, aku melihat mereka semua yang terpisah dari Gereja terjerumus ke kedalaman kekafiran, takhayul, bidaah, dan filsafat dunia yang menyesatkan. Dan mereka melampiaskan angkara murka mereka dengan menggalang kekuatan besar untuk menyerang Gereja, dengan didorong oleh ular yang bersorak-sorak di antara mereka. Sungguh malang! seolah-olah Yesus Sendiri yang telah terkoyak hingga hancur berkeping-keping!
Sungguh dahsyat ketakutan dan kengerianku, hingga Mempelai Surgawi-ku menampakkan diri kepadaku dan dengan penuh belas kasihan menempelkan tangan-Nya ke hatiku seraya berkata: “Belum pernah seorang pun melihat segala hal ini, dan engkau, hatimu akan hancur dalam dukacita jika Aku tak memberimu kekuatan.”
Aku melihat tetes-tetes besar darah menuruni wajah Juruselamat kita yang pucat, rambut-Nya kusut, janggut-Nya berlumuran darah dan lengket. Setelah penglihatan yang terakhir aku ceritakan, Ia melarikan diri, begitulah istilahnya, dari gua dan kembali kepada para murid-Nya. Tetapi Ia berjalan dengan sempoyongan; penampilan-Nya bagaikan seorang yang penuh luka-luka dan bongkok di bawah suatu beban yang berat. Ia terseok-seok di setiap langkah-Nya.
Ketika Ia tiba di hadapan ketiga rasul, mereka tidak sedang terbaring tidur seperti sebelumnya, tetapi kepala mereka diselubungi, dan mereka merunduk di antara kedua lutut mereka, dalam suatu sikap yang biasa diambil orang dari bangsa itu ketika sedang berduka atau berdoa. Mereka tertidur, dikuasai dukacita dan letih. Yesus gemetar dan mengerang, mendekati mereka, dan mereka pun terbangun.
Selengkapnya, dianjurkan membaca:
|
|
dari Meditasi
mistikus, stigmatis, visionaris
(1774 - 1824)
|
|
|
“Wahai jiwaku, jika engkau rindu masuk ke kedalaman Misteri ini, pandanganmu haruslah diterangi dengan Kasih! Engkau perlu melihat dan memahami! Renungkanlah Perjamuan Malam Terakhir: lihatlah Yesus yang tahu bahwa Ia akan segera dipisahkan dari tubuh manusiawi-Nya, dan meski demikian rindu dipersatukan dengan kita untuk selamanya; renungkanlah Kasih dengan mana Ia menetapkan Sakramen ini yang memungkinkan-Nya bersatu secara jasmaniah dan abadi dengan manusia.
O, Kasih yang tak terpadamkan!
O Kasih Kristus!
O Kasih kepada umat manusia!
Betapa suatu Kobaran Kasih sejati!
|
O Yesus, Engkau telah melihat maut yang menanti-Mu, dukacita dan sengsara keji Passio yang telah mengoyak Hati-Mu, namun demikian Engkau menyerahkan DiriMu Sendiri kepada para algojo-Mu, dan mengijinkan mereka, dengan sarana Sakramen ini, memiliki-Mu selamanya sebagai Anugerah Abadi; ya Engkau, yang sukacita-Nya adalah bersama dengan anak-anak manusia!
Wahai jiwaku, bagaimanakah mungkin engkau dapat menahan diri dari membenamkan dirimu bahkan terlebih dan terlebih dalam lagi ke dalam kasih Kristus, yang tidak melupakan engkau baik dalam hidup maupun mati, melainkan yang rindu memberikan DiriNya sepenuhnya kepadamu, dan mempersatukanmu dengan DiriNya untuk selama-lamanya?”
~ St Angela Foligno
|
YESUS MENCARI MURID-MURID-NYA YANG TERTIDUR
dari Refleksi Yesus seperti didiktekan Tuhan kepada Catalina (Katya) Rivas
 Petrus, Yohanes, Yakobus! Di manakah gerangan kalian hingga Aku tidak melihat kalian siaga? Bangunlah, lihatlah Wajah-Ku, lihatlah bagaimana sekujur Tubuh-Ku gemetar dalam pencobaan yang Aku alami ini! Mengapakah kalian tidur? Bangunlah dan berdoalah bersama-Ku; Aku mencucurkan keringat Darah bagi kalian!
Petrus, murid pilihan-Ku, tidakkah engkau peduli terhadap Passio-Ku? … Yakobus, begitu banyak kali Aku telah memperlakukanmu secara istimewa, lihatlah Aku dan ingatlah Aku! Dan engkau Yohanes, mengapakah engkau membiarkan dirimu tenggelam dalam tidur bersama yang lain? Engkau dapat menanggung lebih daripada mereka…. Janganlah tidur, berjagalah dan berdoalah bersama-Ku!
Inilah apa yang Aku dapatkan: Aku mencari penghiburan, namun Aku malahan mendapatkan kesedihan yang terlebih memilukan. Mereka bahkan tidak bersama-Ku. Kemana lagikah Aku harus pergi? … Benar, BapaKu memberi-Ku hanya apa yang Aku minta, supaya penghakiman terhadap segenap umat manusia dapat ditimpakan atas-Ku. BapaKu, tolonglah Aku! Engkau dapat melakukan segala sesuatu; tolonglah Aku!
Aku berdoa lagi sebagai seorang manusia yang segala pengharapannya telah diputuskan dan yang rindu mendapatkan pengertian dan penghiburan dari atas. Tetapi, apakah yang dapat dilakukan BapaKu apabila Aku telah secara sukarela memilih untuk membayar lunas semuanya? Pilihan-Ku tidak berubah. Namun demikian, penolakan alamiah datang sampai pada tahap yang begitu dahsyat hingga kemanusiaan-Ku dikuasainya.
Lagi, Aku jatuh tersungkur dengan wajah mencium tanah sebab aib segala dosa kalian; lagi, Aku mohon kepada BapaKu untuk menjauhkan Cawan daripada-Ku. Tetapi Ia menjawab bahwa, jika Aku tidak minum darinya, maka akan seolah Aku tidak pernah datang ke dunia ini, dan Ia meminta-Ku untuk menghibur Diri sebab banyak makhluk ciptaan yang akan ikut ambil bagian dalam sakrat maut-Ku di Taman.
Aku menjawab: Ya Bapa, janganlah Kehendak-Ku yang terjadi, melainkan Kehendak-Mu. Malaikat ini telah meyakinkan-Ku akan Kasih-Mu; dan sukacita sekejap yang Engkau kirimkan kepada-Ku ini, telah mendatangkan kebajikan bahkan dengan penolakan alamiah-Ku. Berikanlah makhluk-makhluk ciptaan kepada-Ku; mereka yang Aku tebus. Engkau Sendiri-lah yang mengambil mereka sebab bagi-Mu Aku menerimanya. Aku ingin melihat-Mu puas. Aku persembahkan kepada-Mu segala sengsara-Ku dan Kehendak-Ku yang tak berubah, bahwa dalam kebenaran tidak bertentangan dengan kehendak-Mu, sebab Kita senantiasa Satu…. Bapa, Aku hancur binasa, namun dengan demikian Kasih Kita akan dikenali. Kehendak-Mu-lah yang terjadi, bukan Kehendak-Ku!
Lagi, Aku kembali untuk membangunkan Murid-murid-Ku, tetapi berkas-berkas sinar Keadilan Ilahi telah meninggalkan-Ku dalam keterpurukan yang mengerikan…. Mereka diliputi ketakutan kala mereka melihat-Ku bagai seorang gila, dan dia yang paling menderita adalah Yohanes. Aku diam … mereka terpaku…. Hanya Petrus yang memiliki keberanian untuk berbicara. Petrus yang malang, andai saja ia tahu bahwa sebagian sengsara-Ku diakibatkan olehnya.
Aku membawa serta ketiga sahabat-Ku agar Aku dapat beristirahat dalam mereka dan dalam kasih mereka, agar mereka dapat menolong-Ku dengan ikut ambil bagian dalam sengsara-Ku dan berdoa bersama-Ku…. Bagaimanakah akan dapat Aku gambarkan apa yang Aku rasakan kala Aku melihat mereka tertidur?
Betapa Hati-Ku berduka bahkan hingga hari ini dan, rindu mendapatkan kelegaan dalam jiwa-jiwa-Ku, Aku pergi kepada mereka dan mendapati mereka tertidur. Lebih dari sekali, ketika Aku hendak membangunkan mereka dan menyadarkan mereka, agar lepas dari kekhawatiran-kekhawatiran mereka, mereka menjawab-Ku, jika tidak dengan perkataan, dengan perbuatan, “Jangan sekarang, aku terlalu lelah; ada banyak hal yang harus aku kerjakan; tidak baik bagi kesehatanku; aku butuh sedikit waktu; aku butuh ketenangan.”
Aku mendesak dan dengan lembut berkata kepada jiwa: Janganlah takut. Jika demi Aku engkau mengorbankan istirahatmu, Aku akan mengganjarimu. Mari dan berdoalah bersama-Ku, hanya satu jam saja! Lihat, inilah saat di mana Aku membutuhkanmu! Jika engkau berhenti, tidakkah engkau sekarang akan ketinggalan? Berapa banyak kali Aku mendengar jawaban yang sama!
Jiwa yang malang, engkau tak sanggup berjaga satu jam saja bersama-Ku. Segera Aku akan datang dan engkau tidak akan mendengar Aku sebab engkau tertidur. Aku rindu menganugerahimu Rahmat, tetapi karena engkau tertidur, engkau tidak akan dapat menerimanya. Dan siapakah yang akan dapat menjamin bahwa kelak engkau akan mempunyai kekuatan untuk bangun ?… Mungkin karena tidak mendapatkan makanan, jiwamu akan lemah dan engkau tidak akan dapat keluar dari kelesuan itu.
Banyak jiwa-jiwa terkejut oleh kematian di tengah tidur yang pulas dan, di manakah dan bagaimanakah mereka terbangun?
Jiwa-jiwa terkasih, Aku juga hendak mengajarkan kepada kalian bagaimana tak berguna dan sia-sianya mencari penghiburan dalam makhluk ciptaan. Betapa sering mereka tertidur dan, bukannya mendapatkan kelegaan yang Aku cari dalam diri mereka, malahan Aku pergi dengan kepahitan sebab mereka tidak menanggapi kerinduan Kami pun kasih Kami.
Selengkapnya, dianjurkan membaca:
Refleksi Yesus mengenai misteri Sengsara-Nya
dan nilainya bagi Penebusan.
kepada
Catalina Rivas
Stigmatis, Visionaris
|
|
|
|
Meditasi Passio Yesus Kristus
dari buku “PASSIO” seperti didiktekan Yesus
kepada Catalina Rivas
|
“Sakramen Mahakudus adalah kenangan akan sengsara dan wafat Yesus Kristus, dan dengan sarana itu manusia ikut ambil bagian dalam buah-buahnya dan beroleh keselamatan.”
~ Saint Louis de Montfort
|
|
YESUS MENANTI KITA DI SINI DENGAN KERINDUAN ILAHI
|
|
Kunjungilah dan sembahlah Yesus, yang dilupakan dan diabaikan
oleh manusia dalam Sakramen Cinta Kasih-Nya.
Manusia mempunyai waktu untuk segalanya
terkecuali untuk mengunjungi Tuan dan Tuhan-nya,
yang menanti dan merindukan kita
dalam Sakramen Mahakudus.
Jalanan dan tempat-tempat hiburan
penuh dengan manusia;
tetapi Rumah Tuhan sunyi sepi.
Manusia menjauhkan diri darinya; mereka takut kepadanya.
Ah! Yesus yang malang!
Adakah Engkau menyangka keacuhan yang begitu rupa
dari mereka yang telah Engkau tebus,
dari sahabat-sahabat-Mu, dari anak-anak-Mu, dariku?
|
Berbelaskasihanlah kepada Yesus yang dikhianati,
yang dinista, dicemooh, dan disalibkan jauh lebih keji
dalam Sakraman Cinta Kasih-Nya daripada
di Taman Zaitun, di Yerusalem, dan di Kalvari.
Mereka yang paling Ia hormati, kasihi,
dan limpahi dengan karunia-karunia dan rahmat-Nya
adalah mereka-mereka yang paling hebat menganiaya-Nya
dengan keacuhan yang dingin.
Persembahkanlah bagi intensi ini segala yang telah engkau derita
sepanjang hari atau pekan
agar Yesus dapat dikasihi dan disembah oleh semua orang.
Oleh sebab kita sendiri tiada dapat menyilih
bagi demikian banyak dosa,
kita mempersatukan diri kita
dengan jasa-jasa tak terhingga Juruselamat kita Yesus Kristus.
Sambutlah Darah Ilahi-Nya
seolah memancar secara ajaib dari Luka-Luka-Nya yang Kudus,
dan persembahkanlah kepada Bapa
sebagai silih sempurna bagi dosa-dosa dunia.
Bawalah derita sengsara-Nya
dan doa-Nya di Salib
dan mohonlah kepada Bapa Surgawi
untuk menaruh belas kasihan dan mengampuni semuanya.
Persatukanlah silihmu
dengan silih Santa Perawan Tersuci
di kaki Salib atau di altar,
dan demi kasih Yesus kepada Bunda Ilahi-Nya
engkau akan mendapatkan semuanya.
|

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan sebagian / seluruh artikel di atas dengan mencantumkan: “dikutip dari YESAYA: www.indocell.net/yesaya”
|